Oleh : Nita Karlina
Akhir – akhir ini media sosial tengah di kejutkan dengan beredarnya video yang memperlihatkan seorang da’i kondang sedang mengejek seorang penjual es teh, dengan perkataan yang tidak sopan.
Sebagaimana yang di lansir oleh Suara.com, 03/12/2024. Adab Gus Miftah pada penjual es teh menjadi perbincangan setelah viral video yang dibagikan akun X @DS_yantie. Dalam video, Gus Miftah disebut tengah mengisi pengajian di Magelang, Jawa Tengah. Terlihat seorang penjual es teh dan air mineral yang membawa dagangannya berdiri di antara para jemaah. Gus Miftah kemudian bertanya soal jualan si pedagang yang terlihat masih banyak. “Es tehmu sih akeh (masih banyak) nggak? ya sana jual gob*lok,” kata Gus Miftah. “Jual dulu, nanti kalau belum laku ya udah, takdir,” sambungnya.
Pernyataan Gus Miftah itu disambut dengan aksi tertawa pria yang ada di sebelahnya. Sementara itu, adab Gus Miftah pada penjual es teh sontak mengundang berbagai respons dari warganet. Namun, tak sedikit warganet memberikan kritikan pada Gus Miftah terkait sikapnya pada penjual es teh meski kemungkinan bermaksud untuk guyonan.
Miris, sosok pendakwah yang satu ini memang kerap menjadi perbincangan di kalangan masyarakat, karena sikap dan tutur kata yang di tunjukannya tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tak hanya dalam peristiwa ini, beberapa bulan yang lalu ia pun pernah menjadi viral karena videonya yang menggoyang – goyangkan kepala istrinya di tempat umum.
Seperti yang di lansir oleh Radarsurabaya.id 07/10/2024. Dai kondang Miftah Maulana Habiburrahman atau yang karib disapa Gus Miftah menjadi perbincangan warganet karena videonya menoyor dan menggoyang goyangkan kepala istrinya, Ning Astuti, saat nonton konser Denny Caknan. Dalam video berdurasi 35 detik itu memperlihatkan Gus Miftah yang asyik berjoget sambil bernyanyi. Namun tidak lama, Gus Miftah memegang kepala sang istri yang duduk di sampingnya lalu menggoyang-goyangkannya dengan cukup keras. Ning Astuti yang mendapat perlakuan tersebut tampak berusaha memukul suaminya, tetapi kemudian diurungkan dan memilih diam saja.
Akibat Sistem Sekuler
Inilah hasil dari sistem sekuler, menjadikan manusia minim adab. Kapitalisme melahirkan paham demokrasi yang di dalamnya terdapat 4 macam kebebasan. Salah satunya yaitu kebebasan berbicara/berpendapat. Atas dasar inilah mereka bebas berbicara semaunya, tanpa memperhatikan adab dalam berbicara dan bertingkah laku. Bahkan yang bersangkutan mengatakan ini hanya sebatas candaan.
Sungguh ironi negeri kita hari ini, kurangnya pendidikan moral dan akhlak menjadikan seseorang mudah untuk mengumpat atau mengejek. Inilah bukti ketika Islam tidak di terapkan secara kaffah, sekulerisme memisahkan aturan agama dari kehidupan, dan terkadang hanya memilih atau mengambil sebagian aturan yang mudah saja untuk di terapkan. Dari kejadian ini, mereka sangat tidak beradab, kenapa bisa perkataan tidak sopan seperti itu muncul dari seorang da’i yang sedang mengisi kajian. Terlebih dengan seseorang yang berada di samping Gus Miftah yang tertawa sangat terbahak bahak. Sungguh, miris akhlak masyarakat hari ini. Mengejek orang di jadikan sebagai bahan candaan.
Atas kejadian ini masyarakat pun mengecam tindakan Gus Miftah. Mengapa seorang da’i yang di anggap berilmu tidak memiliki akhlak yang baik. Masyarakat pun menilai sombong perilaku Gus Miftah, apalagi beliau saat ini adalah salah satu pejabat negara. Gus Miftah ditunjuk Prabowo sebagai satu dari tujuh Utusan Khusus Presiden. Gus Miftah dilantik sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan pada 22 Oktober 2024. (Tribunnews.com, 03/12/2024)
Kurangnya kontrol negara, menjadikan negeri ini kaya akan kasus – kasus semacam ini, bahkan banyak yang lebih parah. Tidak adanya penanganan khusus atau tindakan pemerintah agar perilaku semacam ini tidak terulang lagi. Menunjukan lemahnya hukum hari ini, serta menandakan bahwa minimnya tingkat keberhasilan dalam berpendidikan. Karena sejatinya ketika seseorang itu berpendidikan dan berilmu akan menjadikan orang tersebut lebih lembut dan rendah hati. Namun fakta menunjukan orang tinggi pendidikan hari ini, belum tentu baik dalam berakhlak. Menjadi bukti bahwa sistem pendidikan hari ini telah gagal dalam mencetak generasi berakhlak mulia.
Adab Dalam Islam
Adab secara bahasa artinya menerapakan akhlak mulia. Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar menyebutkan:
وَالْأَدَبُ اسْتِعْمَالُ مَا يُحْمَدُ قَوْلًا وَفِعْلًا وَعَبَّرَ بَعْضُهُمْ عَنْهُ بِأَنَّهُ الْأَخْذُ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ
“Al adab artinya menerapkan segala yang dipuji oleh orang, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Sebagian ulama juga mendefinsikan, adab adalah menerapkan akhlak-akhlak yang mulia” (Fathul Bari, 10/400).
Jadi arti adab secara keseluruhan yaitu segala bentuk sikap, perilaku atau tata cara hidup yang mencerminkan nilai sopan santun, kehalusan, kebaikan, budi pekerti atau akhlak. Untuk mempelajari adab dibutuhkan waktu yang tak sebentar. Dalam kajian Ustadz Budi Ashari, Lc, menyampaikan betapa pentingnya adab dahulu baru ilmu.
Kenapa sampai para ulama agama pun mendahulukan mempelajari adab?
Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata,
بالأدب تفهم العلم
“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”
Sebab, kepintaran tidak ada artinya apabila seseorang tidak memiliki adab (etika). Ilmu menjadi berbahaya bagi pemiliknya dan orang lain karena tidak dihiasi akhlak.
Bahkan mungkin kita juga sering mendengar pepatah mengatakan, “Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu seperti jasad tanpa ruh” (Adabul Imla’ wal Istimla’ [2], dinukil dari Min Washaya Al Ulama liThalabatil Ilmi [10]).
Begitu pentingnya adab hingga Allah SWT menempatkanya sebagai hal yang paling utama. Sebab, kepintaran pun tidak ada artinya apabila seseorang tidak memiliki adab. Ilmu bisa saja menjadi berbahaya bagi pemiliknya dan orang lain karena tidak didampingi dengan adab.
Maka, Islam sangat menjunjung tinggi adab dalam berperilaku, bertutur kata, dan dalam hal apa saja ketika kita melakukan suatu aktivitas. Terlebih kepada para pengemban dakwah yang di beri gelar ustad atau ustadzah, kiayi, habib, dan gelar lainnya yang di peruntukan untuk orang yang memiliki pengetahuan tinggi tentang agama.
Karena itu, sangat tidak sopan dan memprihatinkan sikap Gus Miftah dengan berita di atas, terlebih beliau adalah seorang pendakwah serta pejabat negara, yang seharusnya memberi contoh yang baik, namun malah sebaliknya. Maka, saatnya kita kembalikan aturan negeri ini pada aturan Islam kaffah. Karena aturannya berasal dari Sang Maha Pencipta. Dan dengan aturan – Nya, akan tercipta manusia – manusia yang cerdas, berakhlak baik dan saling menghormati. Wallahualam bishowwab.
COMMENTS