Oleh : Sri Nawangsih
(Ibu Rumah Tangga)
Presiden Prabowo dalam pidatonya di Kupang mengungkapkan kekagumannya pada Khilafah Utsmaniyah, yang menurutnya adalah sistem pemerintahan bersih dan adil, mampu memakmurkan rakyatnya. Ia mengutip perkataan Osman Ghazi yang menekankan pentingnya keadilan dalam pemerintahan sebagai dasar kemakmuran. Prabowo juga mengapresiasi Khilafah Utsmaniyah sebagai imperium multietnis yang toleran terhadap berbagai agama dan budaya.
Khilafah Utsmaniyah, yang berjaya selama hampir 700 tahun, merupakan bagian dari sejarah panjang kekuasaan Islam yang dimulai sejak Rasulullah saw. Rasulullah tidak hanya menyampaikan wahyu, tetapi juga memimpin umat dengan hukum-hukum Allah. Setelah beliau wafat, kepemimpinan Islam dilanjutkan oleh Khulafaurasyidin dan para khalifah berikutnya, yang menjaga penerapan syariat Islam.
Para ulama telah menyepakati kewajiban mendirikan Khilafah sebagai bagian dari ajaran Islam. Dalil kewajiban ini terdapat dalam Al-Qur’an, Sunah, dan ijmak sahabat, yang menunjukkan pentingnya keberadaan seorang khalifah untuk menerapkan hukum Allah secara sempurna, salah satunya terdapat dalam Q.s Al-Maidah:49. Para ulama besar seperti Imam Al-Qurthubi dan Imam Al-Mawardi menegaskan bahwa Khilafah merupakan kewajiban bagi kaum muslim.
Keberhasilan Khilafah Islamiah ditopang oleh tiga faktor utama: ketakwaan para pemimpin, penerapan hukum Islam secara konsisten, dan keterlibatan rakyat dalam amar makruf nahi mungkar. Sistem ini terbukti bersih dari korupsi dan mampu menciptakan keadilan serta keberkahan bagi umat. Kontrol sosial dan keberanian rakyat menasihati penguasa menjadi kunci menjaga integritas pemerintahan.
Sebagai umat Islam, kekaguman terhadap Khilafah seharusnya diwujudkan dengan ketaatan pada aturan Allah secara menyeluruh, termasuk dalam sistem pemerintahan. Sejarah menunjukkan bahwa keberkahan hanya diraih ketika umat menerapkan ajaran Islam secara kafah, sementara kemunduran terjadi saat mereka menjauhinya, seperti keruntuhan Khilafah Utsmaniyah pada 1924.
Wallahu’alam bi’ashawab.