Oleh: Astina
Generasi muda merupakan generasi emas, karena merekalah yang akan melanjutkan kehidupan bangsa ini. Generasi muda harus dibentuk dengan baik agar dapat meneruskan kehidupan yang lebih baik bagi negara. Generasi muda perlu memiliki kecerdasan intelektual dan spritual disertai adab yang baik. Oleh karena itu perlu adanya pendidikan yang mampu menyeimbangkan antara agama dengan dunia, sehingga dalam menjalani kehidupan seseorang akan mampu untuk menjalaninya sesuai dengan tuntunan islam. Tetapi pada masa ini generasi muda menjadi sadis, tidak mampu menjadi generasi emas, memiliki mental yang lemah, dan tidak memahami islam dengan baik bahkan malas untuk mempelajarinya.
Salah satu bukti nyata rusaknya generasi saat ini yaitu kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seorang remaja berusia 14 tahun yang membunuh ayah dan nenek serta menikam ibunya dengan senjata tajam di rumah mereka di Jalan Lebak Bulus I, Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu (30/11/2024) dini hari. Pelaku berinisial MAS tersebut langsung diamankan petugas keamanan perumahan saat berusaha melarikan diri, sementara sang ibu yang mengalami luka tusuk dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis.
Inilah buah dari sistem kapitalisme yang membentuk generasi yang sadis, anak-anak saat ini sering melakukan kekerasan terhadap teman-temannya bahkan sudah sampai kekerasan pada keluarga. Padahal di era 1990-an anak-anak takut kepada orang tuanya, membentak saja tidak berani apalagi sampai melakukan kekerasan. Tapi anak-anak saat ini tidak memiliki sopan santun terhadap orang yang lebih tua, tidak memiliki rasa empati sesama teman, hal ini juga menjadi penyebab adanya bulliying. Kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak sekarang dapat dipengaruhi oleh tontonan, didikan orang tua, media sosial dan semua itu dapat mempengaruhi kesehatan mental anak.
Kasus anak membunuh orang tua tidak hanya terjadi satu dua kali, ini merupakan problem karena persoalan sistemis. Ada banyak faktor yang menjadi penyebab dan semua itu terkait dengan sistem hari ini yang merusak fitrah manusia, termasuk mengubah karakter masyarakat menjadi masyarakat yang terbiasa dengan kekerasan. Kondisi ini diperparah dengan negara yang tidak menjalankan fungsinya termasuk dalam menyelenggarakan sistem pendidikan yang memiliki visi membina kepribadian dan menjaga Kesehatan mental generasi.
Islam menjadikan pemimpin sebagai raa’in, yang bertanggung jawab atas rakyatnya termasuk membangun generasi. Kepemimpinan Islam memiliki tanggung jawab untuk melahirkan generasi cemerlang yang berkualitas, melalui penerapan berbagai sistem kehidupan sesuai dengan Islam. Kepemimpinan ini mengharuskan negara membangun sistem pendidikan yang berasas akidah Islam dan menghasilkan generasi yang beriman dan bertakwa, menguasai Iptek, berjiwa pemimpin. Sejarah panjang penerapan Islam telah membuktikan lahirnya banyak sosok ilmuwan yang juga menguasai ilmu agama dan optimal berkiprah dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Pada masa kejayaan Islam generasi muda memiliki kemampuan yang sangat luar biasa dibandingkan generasi muda saat ini. Generasi muda saat kejayaan Islam sibuk menuntut ilmu, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas dirinya yang diisi dengan mengikuti kajian-kajian ilmu, menghafalkan serta memahami alquran, serta senantiasa memaksimalkan diri dalam beribadah. Hal tersebut juga bisa terjadi jika difasilitasi oleh negara, negara yang seharusnya membentuk sistem pendidikan Islam yang akan memiliki kurikulum yang tidak hanya untuk menjadi cerdas tetapi juga membentuk kepribadian yang mulia.
Wallahu’alam