Oleh : Dhea Rahmah Artika, A.Md.Keb
(Praktisi Kesehatan)
Menurut World Health Organization (WHO), mengobati secara mandiri atau self-medication adalah upaya pengobatan pada suatu gangguan atau gejala tanpa adanya konsultasi pada tenaga kesehatan terlebih dahulu. Fenomena mengobati diri sendiri ini justru cenderung banyak terjadi di wilayah pedesaan daripada wilayah perkotaan. Disinyalir penyebab utamanya yaitu susahnya akses berobat pada fasilitas kesehatan, ketersediaan tenaga kesehatan yang kurang, dan lagi-lagi biaya berobat yang mahal.
Faktanya dengan penduduk di Kalimantan Tengah yang kini berjumlah sekitar 2,7 juta jiwa, kira-kira memerlukan 2.700 dokter. Namun saat ini, jumlah dokter yang ada hanya sekitar 800 orang, sehingga masih memerlukan sekitar 1.900 dokter lagi untuk mencapai angka ideal. Ditambah lagi program Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN yang digadang-gadang iuran BPJS nya akan naik hingga 10% .
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, dalam sesi diskusi pada GAVI Board Meeting di Hotel Hilton, Nusa Dua, Bali, Selasa (3/12). Mengatakan bahwa sektor kesehatan memiliki peran yang sangat penting dalam upaya peningkatan kualitas SDM di Indonesia. Melalui penguatan promotif dan preventif, Menkes Budi percaya Indonesia dapat mencapai masyarakat yang lebih sehat tanpa membebani anggaran negara secara berlebihan.
Bukti Abainya Pemegang Kuasa
Akses dan pelayanan kesehatan yang baik dan merata merupakan salah satu hak dasar bagi setiap manusia. Masyarakat berhak memperoleh akses pencegahan dan pengobatan dari suatu gangguan atau penyakit dalam dirinya, baik dengan cara mengobati secara mandiri, rawat jalan, dan rawat inap.
Tapi rasa-rasanya permasalahan mengenai pemerataan layanan kesehatan hingga kini tak kunjung menemukan solusi. Akses jangkauan yang sulit menuju fasilitas kesehatan di daerah terpencil, jumlah tenaga kesehatan sedikit, sampai biaya berobat yang juga tidak murah. Berharap masalah-masalah familiar tersebut dapat teratasi, justru faktanya tidak semua lapisan masyarakat bisa dengan mudah mengakses layanan kesehatan ini.
Seperti yang kita ketahui bersama, saat ini sistem kapitalisme lah yang merajai tatanan kehidupan di dunia. Di mana sistem ini merupakan sistem dengan landasan materi dan asas nya akan selalu mencari manfaat. Sehingga inilah sumber masalah yang paling besar dan mendasar. Layanan kesehatan justru di kapitalisasi. Alih-alih Jaminan kesehatan yang seharusnya menjadi hak dasar rakyat, penguasa dengan arogannya akan mengutak-atik anggaran kesehatan untuk kepentingan segelintir kelompok korporasi.
Hal yang paling mendasar penyebab dari ketidakmerataan ini yaitu diterapkannya sistem kepemimpinan yang sekuler. Dimana sampai hari ini berjalan kepemimpinan yang telah memisahkan aturan agama dengan permasalahan kehidupan. Sehingga para pemimpin dan penguasa sekuler inilah yang terbukti abai terhadap perannya sebagai raa’in atau pengurus terhadap rakyatnya. Dalam hal ini mereka telah abai dalam hal menjamin pemerataan layanan kesehatan bagi umat.
Wujud Kepemimpinan Islam
Kesehatan merupakan kebutuhan dasar yang sudah selayaknya mudah diakses bagi seluruh rakyat dan sebuah negara wajib menjadi wadah penyedianya. Namun dengan sistem yang ada saat ini, dapat dipastikan pemerataan layanan kesehatan itu hanya sebatas mimpi indah belaka. Berbeda halnya jika kepemimpinan Islam lah yang diterapkan. Seorang Khalifah dengan sistem kepemimpinan Islam akan bertindak sebagai raa’in yang dengan tugas dan tanggung jawab nya sebagai pengurus rakyat. Dalam segala hal termasuk penyedia dan pemerataan layanan kesehatan agar dapat terwujud secara nyata bagi umat bahkan sampai ke daerah pelosok, dengan fasilitas memadai, pelayanan berkualitas prima dan menugaskan tenaga-tenaga kesehatan yang berkompeten serta seluruh layanan kesehatan nya tanpa biaya.
Terbukti pada zaman daulah pertengahan, hampir semua kota besar khilafah memiliki rumah sakit. Di Kairo misalnya rumah sakit Qalaqun dapat menampung hingga 8000 pasien. Seluruh rumah sakit di dunia Islam dilengkapi dengan tes-tes kompetensi bagi setiap dokter dan perawatnya, aturan kemurnian pada obat, kebersihan dan kesegaran udaranya, sampai pemisahan pasien dengan penyakit-penyakit tertentu. Rumah-rumah sakit ini bahkan menjadi favorit para pelancong asing yang ingin mencicipi sedikit kemewahan tanpa biaya, karena seluruh rumah sakit di daulah khilafah bebas biaya. Semua niscaya akan terwujud apabila sistem kepemimpinan Islam lah yang diterapkan di seluruh dunia.
Wallahua’lam bissawab ..