Oleh: Ummu Mufidah (Pegiat Literasi)
Musibah di negeri ini seakan tiada hentinya, dari tanah longsor, gempa bumi, kebakaran, banjir dan sebagainya.
Bahkan, musibah-musibah yang terjadi sudah menjadi sesuatu yang biasa seakan menjadi langganan.
Beberapa pekan terakhir ini, ada beberapa bencana alam yang terjadi, diantaranya, banjir yang terjadi di Pandeglang yang disebabkan oleh luapan sungai Cilemer yang terjadi sejak (2/12 lalu) telah merendam pemukiman warga setinggi 1 sampai 2,5 meter. Akibatnya, akses jalan warga jadi terbatas dan sebanyak 200 buah warga harus mengungsi di posko darurat (Kumparan.news, 5/12/2024).
Banjir juga terjadi di Sukabumi, yang dipastikan akibat pendangkalan sungai. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) berupaya melakukan pengerukan terhadap sejumlah sungai di Sukabumi, 12 alat berat dikerahkan untuk menormalkan berbagai sungai (Jawapos. com, 7/12/2024).
Sudah sepatutnya setiap kita merenungkan hal ini. Baik rakyat biasa, terlebih para penguasa selaku pengurus rakyatnya. Karena terjadinya bencana tidak akan muncul tiba-tiba tanpa ada campur tangan manusia dan ketahuilah bahwa setiap musibah yang menimpa kita dan datang menghampiri negeri ini, itu semua disebabkan karena dosa dan maksiat yang kita perbuat.
Dari hal-hal kecil misalnya, kebiasaan buruk yang dianggap remeh ialah membuang sampah sembarang, alias tidak pada tempatnya. Membuang sampah di sungai, di jalan, atau di tempat umum lainnya yang sudah membudaya, memang terlihat remeh jika hanya satu sampah, tetapi jika ada seratus orang yang membuang sampah sembarangan, maka akan ada seratus sampah yang berserakan, jika ada seribu orang, maka akan ada ribuan sampah yang mengapung di sungai, sehingga sungai meluap dan menumpahkan bebannya (banjir).
Dalam Islam, kemaksiatan bukan hanya tidak menjalankan sholat, tetapi membuang sampah tidak pada tempatnya pun sebuah kemaksiatan, karena perbuatan tersebut bisa menimbulkan mudharat bagi diri sendiri dan orang banyak.
Contoh kemaksiatan yang lebih besar misalnya, abainya penguasa terhadap kelayakan fasilitas umum, atau bahkan penyalah gunaan anggaran kepentingan umum untuk kepentingan pribadi dan golongan dan kemaksiatan yang paling nyata di negara kita adalah mengganti aturan Islam (hukum-hukum) Allah dengan aturan buatan manusia. Sehingga alam yang merupakan ciptaan Allah pun murka pada manusia.
Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Ar Rum ayat 41 yang artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Jika para penguasa yang melakukan kemaksiatan atau ketidak adilan dalam memberikan kebijakan, maka akibatnya sangat fatal dan dampak kerusakannya menimpa banyak orang.
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)
Ali bin Abi Tholib –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan,
مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ
“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)
Perkataan ‘Ali –radhiyallahu ‘anhu– di sini selaras dengan firman Allah Ta’ala,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30)
Para ulama salaf pun mengatakan yang serupa dengan perkataan di atas.
Ibnu Qoyyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan, “Di antara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya suatu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87). Waallahu a’lam bishowab.