Oleh Tinie Andryani
Aktivis Muslimah
Pemerintah Kabupaten Bandung melalui Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) meraih penghargaan Innovative Government Award (IGA) dari Kemendagri dengan predikat sangat inovatif. Penghargaan ini diterima oleh kepala Bapperida di Grand Mercure Surabaya, kamis 5/12/2024 ( bandungkab.go.id).
Menurut kepala Bapperida, prestasi Kabupaten Bandung diajang IGA tahun ini mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya yang menyandang predikat inovatif.
Keberhasilan yang di raih oleh Pemkab Bandung selama ini perlu diacungi jempol. Beberapa penghargaan demi penghargaan telah di terima dan diapresiasi oleh pemerintah pusat. Peningkatan secara signifikan tersebut menjadi bukti bahwa pejabat daerah telah bekerja dengan maksimal demi mengangkat dan membangun branding daerah, sehingga daerah tersebut mampu berdaya saing tinggi dalam membangun daerah yang maju. Tentu saja hal ini harus berkolerasi dengan keadaan masyarakat. Masyarakat harus terjamin kondusifitas nya dalam berbagai hal apapun, termasuk dalam kehidupan sosial, budaya bahkan dalam beragama.
Namun yang menjadi pertanyaan, apakah dengan meningkatnya prestasi ini mampu menjaga kondusifitas masyarkat secara keseluruhan? Apakah kesejahteraan masyarakat terpenuhi dibalik berbagai prestasi yang didapat?
Ironi memang, di balik segala inovasi inovasi yang digaungkan nyatanya masih saja menyisakan berbagai macam problematik yang tak kunjung selesai. Pemerintah seolah abai akan kemaslahatan masyarakat. Pemerintah hanya sibuk pada peningkatan ekonomi dan memberikan kebijakan kebijakan kapitalistik yang hanya mengedepankan materi saja.
Perlu diketahui, framing demi framing terpampang jelas dibangun untuk mendongkrak reputasi branding daerah. Tak ayal hal ini mampu menarik perhatian banyak investor dari pihak swasta dan asing. Dalam dunia ekonomi, investasi merupakan salah satu motor penggerak perekonomian yang ditujukan untuk mengembangkan harta seseorang atau kelompok. Investasi ini juga ditujukan untuk mendapatkan sebuah keuntungan bagi negara ataupun daerah agar negara tersebut maju. Maka tidak heran jika pemerintah terus memperbesar skala investasi di negeri ini dengan berbagai kemudahan bagi para investor yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Maka, dengan segala keasriannya, Kabupaten Bandung menjadi sasaran empuk bagi para investor. Banyak para investor yang berbondong bondong menanamkan modalnya di berbagai sektor, tempat wisata misalnya.
Menjamurnya alih fungsi lahan di Kabupaten Bandung merupakan buah dari penerapan sistem kapitalistik yang hanya fokus menggenjot ekonomi tanpa memedulikan kelestarian lingkungan. Sistem ini hanya melayani kepentingan oligarki dan penguasa. Walhasil kebijakan pembangunan konversi fungsi lahan yang beralih fungsi menjadikan Kabupaten Bandung sebagai daerah langganan bencana. Banjir yang tak pernah usai, ancaman tanah longsor yang terus mengintai, dan eksploitasi hutan yang berlebihan.
Penguasa semestinya malu jika ada julukan “banjir tahunan” atau “langganan bencana alam.” Hal ini menunjukan sikap abai terhadap mitigasi bencana, alih-alih mengantisifasinya.
Dalam sistem kapitalis, pembangunan acap kali mengutamakan keuntungan tanpa memperdulikan dampak ekologi yang dapat merusak kelestarian lingkungan. Penebangan liar, ekploitasi alam, pohon, pembakaran hutan demi perluasan lahan yang dilakukan secara terus menerus tanpa mempertimbangkan kestabilan alam. Sekularisme saat ini pun memandang alam sebagai ladang yang menghasilkan. Tidak ada kesadaran dan tanggung jawab manusia terhadap alam. Mereka beranggapan bahwa kerusakan alam adalah sesuatu hal yang biasa. Padahal sejatinya alam adalah amanah dari Allah SWT yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya.
Sangat berbeda dengan sistem pemerintahan Islam. Dalam Islam, hubungan manusia dengan alam bukan hanya soal tanggung jawab ekologis, tetapi juga merupakan bagian bagian dari iman. Alam semesta adalah ciptaan Allah yang harus dilindungi dan dihormati. Rasulullah saw. memberikan banyak contoh tentang bagaimana kita harus memperlakukan alam dengan baik. Beliau bersabda, “Barang siapa yang menanam pohon, maka selama pohon itu berbuah maka itu adalah sedekah baginya (HR Ahmad). Hadis ini menunjukan bahwa menjaga alam adalah bagian dari amal shaleh yang mendapatkan pahala di sisi Allah SWT.
Perlu diingat, bahwa kerusakan alam sering kali disebabkan oleh keserakahan dan perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab. Allah berfirman, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia” (QS Ar Rum: 41 ). Ayat ini mengingatkan kita bahwa bencana alam adalah akibat dari tindakan manusia yang tidak memperhatikan keseimbangan alam. Oleh karena itu, manusia diberi amanah untuk mengelola bumi dengan bijak tanpa merusak tatanan yang telah Allah ciptakan. Dalam surat Al Araf, Allah berfirman, “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya Rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS Al Araf: 56)
Kepemimpinan dalam Islam merupakan amanah yang sangat besar. Tidak hanya berdimensi duniawi, tetapi juga ukhrawi. Seorang pemimpin harus siap dimintai pertanggung jawaban atas setiap orang yang ia pimpin. Nabi saw. bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya.” (HR Bukhari dan Muslim) Artinya seorang penguasa atau pemimpin di dunia bertanggung jawab atas nasib rakyatnya. Ia wajib menjaga agama rakyatnya agar tetap dalam keimanan dan ketakwaan kepada Allah taala. Ia juga wajib memelihara agar urusan sandang, pangan dan papan rakyatnya bisa tercukupi. Pun dengan kebutuhan kolektif lainnya, seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan yang senantiasa harus tetap terjaga. Rasulullah saw. menegaskan dalam sebuah hadis, “Tidaklah seorang manusia yang diamanati Allah SWT untuk mengurus urusan rakyat lalu mati dalam keadaan ia menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga baginya.” (HR Bukhari)
Sistem Islam terbukti memberikan dampak baik bagi umat dan lingkungan. Tidak hanya kestabilan alam yang dirasakan tetapi juga keberkahan hidup karena berada dalam naungan sistem yang sahih, sesuai Al Qur’an dan As Sunah. Terbukti, hanya dengan menjalankan ajaran Islam secara kaffah, dalam institusi khilafah, umat merasakan keberkahan yang luar biasa.
Wallahualam bissawab