Oleh: Muhammad Azizan
Mahasiswa IPB University
Jakarta, 4 Desember 2024 – Harga daging sapi di pasar Indonesia terus mengalami fluktuasi yang signifikan sepanjang tahun yang memengaruhi daya beli masyarakat dan kestabilan pasar pangan nasional. Dari kenaikan harga hingga penurunan harga daging sapi membuat konsumen dan produsen kini berada dalam posisi yang semakin sulit. Lalu apakah diperlukan tindakan intervensi pemerintah? Berdasarkan Panel Data Badan Pangan Nasional harga daging sapi di Tingkat produsen pada 05 November sebesar Rp134.650/kg dengan Harga tertinggi berada pada Provinsi papua sebesar Rp170.000/kg.
Pemerintah telah berusaha mengendalikan harga melalui kebijakan dari Kementerian pertanian dan Kementerian perdagangan, namun Indonesia masioh menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan antara kebutuhan domestik dan strategi peningkatan produksi lokal.
gambar 1,
Gambar 1. Produksi Daging Sapi Indonesia (000 ton) dan Konsumsi Daging Sapi (000 ton) tahun 2018 – 2023
Sumber: Outlook Daging Sapi tahun 2023 (diolah)
Salah satu masalah Industri sapi dan daging sapi saat ini adalah kecenderungan berkembang ke arah hilir, terutama untuk bisnis penggemukan dan impor daging. Karenanya, swasambeda diharapkan akan mengubah pola pikir peternak, dari yang semula memiliki cara beternak sambilan, menuju perilaku usaha serius dan menguntungkan. Gambar 1 menggambarkan produksi dan konsumsi daging sapi di Indonesia dari tahun 2018 sampai tahun 2023, dimana terjadi ketimpangan antara produksi dan konsumsi. Pada tahun 2023 berdasarkan Angka Sementara produksi daging 503.5 ribu ton, atau naik 0,76%. Sedangkan konsumsi sebesar 680,7 ribu ton. Secara umum untuk memenuhi kebutuhan daging sapi, sekitar 30% masih disuplai oleh daging impor sapi.
Kesenjangan supply dan permintaan daging sapu menyebabkan Fluktuasi dan ketidakpastian, baik bagi konsumen yang terjebak dalam harga tinggi, maupun bagi peternak yang dihadapkan pada biaya produksi yang terus meningkat.
Gambar 2
Gambar 2. Perkembangan Harga Konsumen Daging Sapi (Rp/kg) di Indonesia tahun 2013 – 2022
Sumber: Outlook Daging Sapi tahun 2022 (diolah)
Perkembangan harga daging sapi di tingkat konsumen sejak tahun 2013 hingga tahun 2023 cenderung terus meningkat, rata-rata sebesar 4 persen per tahun. Peningkatan tertinggi tahun 2022 sebesar 6,6 persen menjadi Rp. 134.960/kg dari tahun 2021 sebesar Rp.126.596/kg. Tingginya harga daging sapi saat ini sebagai dampak dari ketidakseimbangan antara produksi dan tingginya permintaan masyarakat terhadap daging sapi. Selain produksi daging sapi yang belum mencukupi kebutuhan dalam negeri, sapi dari sentra produksi belum terdistribusi dengan baik ke daerah konsumen.
Solusi untuk Stabilitas Harga
Harga acuan penjualan (HAP) daging sapi di Indonesia adalah harga yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai referensi atau patokan dalam penjualan daging sapi di pasar domestik. Harga acuan ini berlaku untuk berbagai jenis daging sapi, termasuk daging segar dan daging beku, dengan tujuan untuk menciptakan stabilitas harga dan melindungi konsumen. Harga Acuan untuk Penjualdan daging sapi segar paha belakang sebesar Rp.140.000/kg. Regulasi yang berlaku ada pada Badan Pangan Nasonal No. 17 Tahun 2023 tentang Perubahan atas Peraturan Badan Pangan Nasional No. 11 tahun 2022. Harga Acuan Pembelian bertujuan agar konsumen dapat membeli dengan harga yang wajar dan stabil. HAP ini menjadi batas harga tertinggi yang dapat diterapkan oleh pengecer di pasar. HAP ditetapkan berdasarkan pertimbangan harga pasar internasional, biaya produksi domestik, dan kondisi ekonomi. Intervensi ini menyebabkan fluktuasi harga daging sapi domestik lebih stabil yang menunjukkan kenaikan harga yang lebih moderat.
Langkah Strategis
Salah satu masalah Industri sapi dan daging sapi saat ini adalah kecenderungan berkembang ke arah hilir, terutama untuk bisnis penggemukan dan impor daging. Karenanya, swasambeda diharapkan akan mengubah pola pikir peternak, dari yang semula memiliki cara beternak sambilan, menuju perilaku usaha serius dan menguntungkan. Selain itu, perlu adanya kebijakan yang mendorong investasi di sektor peternakan, terutama dalam hal infrastruktur dan penelitian pengembangan bibit sapi unggul. Untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber pasokan daging sapi, Indonesia bisa mengeksplorasi sumber-sumber daging alternatif yang lebih terjangkau dan berkelanjutan, seperti daging ayam dan daging kerbau. Pemerintah bisa memberikan insentif bagi peternak daging alternatif untuk memenuhi sebagian dari kebutuhan pasar, sehingga harga daging sapi bisa lebih terjangkau. Penguatan sektor rantai pasokan juga menjadi langkah yang krusial. Jika rantai distribusi daging sapi lebih efisien, maka akan ada pengurangan biaya dan waktu distribusi yang bisa menekan harga jual daging di tingkat konsumen. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan peternak untuk menciptakan sistem distribusi yang lebih baik sangat diperlukan agar harga daging sapi tetap terjangkau.