Oleh : Erna Marlina Kartika
Ibu Rumah tangga
Memasuki musim penghujan ,sudah tidak aneh lagi Bandung di kepung banjir.BNPB ( Badan Nasional penanggulangan Bencana ) mencatat setidak nya ada 1169 rumah di 21 desa dalam 12 wilayah kecamatan di landa banjir ,bahkan di awal bulan November 2024 kabupaten Bandung sebagian besar di landa hujan di sertai dengan angin kencang ,bahkan baru-baru ini kawasan Rancaekek diterjang angin puting beliung meski dalam taraf kecil, sebagian daerah lain juga seperti Bojongsoang tergenang banjir bukan hanya karena sungai yang meluap tetapi akibat sistem drainase yang tersumbat pun mempunyai andil terjadinya banjir di daerah tersebut.
Banjir disertai longsor di daerah pemakaman Cikutra pun akibat dari sistem drainase yang tidak berfungsi karena tersumbat sampah .
Karena itu, BNPB secara khusus meminta kepada pemerintah Kabupaten Bandung untuk memperbanyak satuan pendidikan aman bencana sebagai respon kerawanan daerah itu terhadap bencana Hidrome teorologi basah.Deputi bidang pencegahan BNPB Prasinta Dewi dalam keterangannya di Jakarta ,mengatakan bahwa keberadaan satuan pendidikan akan bencana (SPAB) merupakan salah satu unsur penting dalam upaya pengurangan resiko bencana di daerah.Prasinta Dewi juga berharap selain pendidikan terhadap pelajar dan tenaga pendidik yang mendapatkan edukasi kebencanaan tetapi peran Keluarga Tangguh Bencana (Katana )dan Desa Tangguh Bencana (Destana )yang berkolaborasi dengan POKJA PKK di tingkat kecamatan /kelurahan .(Antara 26/11/2024)
Hal ini tidak lepas karena kabupaten Bandung merupakan daerah yang rawan terdampak bencana Hidrometeorologi basah di Jawa Barat.
Sebenarnya penelitian ilmiah diskusi terkait tentang hidrometeorologi ,Hidrologi ,kehutanan dan pentingnya konservasi tata ruang wilayah kenyataannya tidak dapat menyelesaikan masalah banjir, hal ini di karenakan lingkungan yang di pandang sebagai pengendali dan penopang banjir, hutan dan lahan mudah di manipulasi dan diperjualbelikan dengan dijadikannya komoditas yang bebas dimiliki dan di manfaatkan siapa saja dan untuk kepentingan siapa saja.
Dibangun atas paradigma berfikir yang salah pengolahan lingkungan ,pembangunan lahan ala kapitalistik merupakan sistem demokrasi ekonomis kapitalis yang terlahir dari kehidupan sekulerisme yang akan menguntungkan para korporasi rezim berkuasa dan penguasa tanpa memikirkan kerusakan yang akan di timbulkan ,sebagaimana dalam Al Quran surat Asy -Syuro 42:30 ,yang artinya :”Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan –
kesalahanmu ).”
Inilah buah dari sistemi ideologi kapitalis demokrasi .Persoalan banjir akan terus terjadi jika penguasa tidak mau mengurus kepentingan publik dengan penerapan syariah .
Sudah saatnya kaum muslimin meninggalkan sistem sekuler yang hanya menyebabkan kesengsaraan.Dan hanya Islam lah satu satunya yang memiliki solusi untuk mengatasi bencana khususnya banjir ,karena solusinya mencakup sebelum ketika dan pasca bencana , Islam juga memberikan upaya kebijakan berupa :
1.Membangun bendungan -bendungan untuk keperluan irigasi.
2.Melarang membangun pemukiman di daerah rendah rawan genangan (akibat rob ,kapasitas resapan tanah dll )
3.Membangun kanal – kanal sungai buatan dan saluran drainase .
4.Mengeruk lumpur-lumpur dan sampah -sampah disungai agar tidak terjadi pendangkalan. 5.Membuat sumur-sumur resapan.
6.Menyediakan stasiun Klimatologi dan pos hidrologi dengan pendeteksi debit hujan yang mutakhir .
Hanya Islam lah yang memiliki institusi politik yaitu Khilafah Islamiyah yang memiliki kebijakan dengan efektif dan efisien ,Insyaa Allah masalah banjir bisa teratasi.
Wallohu A’ lam bishshowab