Oleh: Neng Nura
Akhir-akhir ini Indonesia banyak digemparkan oleh kasus kriminal. Paling sadis, bak film psikopat barat, seorang remaja berinisial MAS (14) melakukan aksi pembunuhan terhadap kedua orangtua dan nenek di Cilandak, Jakarta Selatan. Sang Ibu berhasil kabur dan dilarikan ke rumah sakit sementara ayah dan neneknya meninggal dunia. (cnnindonesia.com, 10/12)
Sistem sekulerisme-kapitalisme yang diterapkan saat ini telah membentuk generasi yang rusak. Hubungan antara anak dan orang tua kini hanya berlandaskan asas manfaat, di mana jika tuntutan anak tidak terpenuhi, dengan mudah mereka kehilangan rasa kasih sayang dan bahkan berani menghilangkan nyawa orang tua mereka. Kasus pembunuhan yang dilakukan anak terhadap orang tua bukanlah hal yang jarang terjadi; ini adalah fenomena yang menunjukkan adanya masalah besar yang berakar pada sistem yang berlaku.
Ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya, dan semuanya saling berkaitan. Sistem yang ada sekarang merusak fitrah manusia, termasuk mengubah karakter masyarakat yang semakin terbiasa dengan kekerasan. Hal ini diperparah dengan negara yang tidak menjalankan fungsinya, terutama dalam menyelenggarakan sistem pendidikan yang seharusnya bertujuan untuk membina kepribadian dan menjaga kesehatan mental generasi muda.
Padahal, negara dan pemimpin bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya. Salah satu contoh konkret adalah dengan membangun sistem pendidikan yang berlandaskan akidah Islam, yang akan melahirkan generasi yang cemerlang, beriman, bertakwa, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki jiwa kepemimpinan. Ini sangat kontras dengan keadaan yang terjadi saat ini.
Sejarah panjang penerapan sistem Islam membuktikan lahirnya banyak ilmuwan yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga mampu berkiprah secara optimal dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Oleh karena itu, solusi untuk permasalahan yang terjadi saat ini adalah dengan menerapkan sistem Islam secara kaffah.