Oleh Yeni Purnama Sari
Ibu Rumah Tangga
Setiap pasangan setelah menikah pasti mendambakan seorang anak. Namun, tidak dengan tren hari ini. Sistem sekularisme berhasil menerapkan childfree atau tidak memiliki anak. Fenomena ini membuat hilangnya peran perempuan dalam keluarga, reproduksi, dan tentu menyalahi fitrahnya sebagai perempuan.
Pilihan untuk tidak memiliki anak (childfree) tentu menimbulkan banyak risiko kesehatan pada reproduksi. Pasangan yang memilih childfree mempunyai peluang untuk menjaga kesehatan fisik. Tanpa melahirkan, tidak mengalami kenaikan berat badan dan horman selama hamil. Seperti dikutip oleh Antarannews.com (18-11-2024)
Alasan tidak ingin memiliki anak terindikasi pendidikan tinggi, kesulitan ekonomi, dan homoseksual. Angka childfree jumlahnya makin meningkat dalam empat tahun terakhir, sempat menurun pada saat Covid-19, yaitu pada angka 6,3 hingga 6,5 persen. Fenomena childfree meningkat di wilayah urban, dengan Jakarta mencapai angka tertinggi 14,3 persen. Ada sekitar 8,2 persen perempuan usia 15 hingga 49 tahun memilih tidak memiliki anak. Dikutip Tri.co.Id (15-11-2024)
Penyebab Childfree
Kesulitan ekonomi menjadi salah satu penyebab dari fenomena childfree. Biaya hidup tinggi juga menjadi momok bagi sebagian pasangan untuk memiliki anak dan takut tidak bisa memenuhi kebutuhan. Selain itu, penyebab tidak ingin memilik anak karena terpapar ide liberal. Manusia diberikan kebebasan dan pilihan yang mengikuti hawa nafsunya.
Dalam sistem sekuler, yaitu yang memisahkan agama dari kehidupan, agama hanya ditempatkan dalam aspek ibadah ritual, tidak diterapkan dalam ruang publik. Jauhnya dari pemahaman Islam menjadikan generasi muslimah mudah tergelincir pada pemahaman yang belum dinyatakan kebenarannya. Fenomena childfree tentu berlawanan dengan fitrah manusia, yaitu menikah tetapi tidak ingin memiliki anak, baik anak tiri ataupun kandung.
Childfree Buah dari Sistem Kapitalisme
Fenomena childfree merupakan ide yang lahir dari feminisme dan sistem kapitalisme. Pola pikir liberal memengaruhi gaya hidup dan kesetaraan gender. Ide Barat ini dianggap sangat penting untuk perempuan, di mana perempuan dan laki-laki itu sama, harus produktif tanpa ada yang membatasi bisa menambah pendapatan dan mengatasi kemiskinan. Narasi ini menyebabkan banyak wanita memilih childfree karena menganggap memiliki anak menjadi hambatan dalam bekerja.
Ide childfree menjadi pilihan untuk perempuan karena berhadapan dengan kehidupan yang diatur oleh kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan atau sekuler. Masyarakat yang terbentuk dari kehidupan liberal tidak memahami adanya konsep rezeki, menjadikan anak sebagai beban menjadi alasan untuk childrfree. Pasalnya, dalam sistem kapitalisme seseorang hanya mempertimbangkan kesenangan dan manfaat tanpa mempertimbangkan agama. Mirisnya, fenomena childfree diberi ruang oleh sistem kapitalisme dengan dalih HAM.
Kesejahteraan Umat
Dalam Islam, fenomena childfree dilarang karena menyalahi fitrah manusia. Sengaja tidak ingin memiliki keturunan, beda dengan konsep mandul karena itu sudah kehendak Allah yang tidak dimintai pertanggungjawaban. Seorang muslim dilarang mengikuti tren childfree karena bertentangan dengan akidah Islam.
Nabi saw. bersabda, “Nikahilah wanita-wanita yang kalian cintai dan (wanita-wanita tersebut) berpotensi untuk memiliki banyak anak. Karena sesungguhnya aku (akan merasa bahagia) karena banyaknya umatku dibandingkan umat-umat lainnya.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam an-Nasa’i, Imam Baihaqi, Imam at-Thabarani, dan sejumlah periwayat hadis lainnya yang dikenal adil dan dhabit. Hadis di atas menjelaskan bahwa setiap pasangan diperintahkan untuk memiliki anak. Karena salah satu amal jariah yang kita bawa di akhirat kelak, yaitu anak yang saleh dan salihah. Lantas, ketika kita tidak memiliki anak, siapa yang akan mendoakan kita?
Seorang mukmin harus percaya bahwa rezeki itu datangnya dari Allah, bukan dari makhluk-Nya. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS Al-Isra [17]
Allah Swt. menciptakan manusia, bumi, dan isinya tentu akan mencukupi semua kebutuhan makhluknya. Allah juga telah memberi rezeki kepada makhluknya. Tugas manusia yaitu menjemput rezeki. Setiap muslim perlu memahami tujuan menikah, yaitu untuk melestarikan keturunan yang saleh, menjadikan anak sebagai ladang pahala untuk mencari keridaan Allah Swt., bukan menjadikan beban.
Menyebarnya fenomena childfree menyebabkan menjauhnya umat dari pemahaman Islam. Jika perempuan dalam sistem kapitalisme takut memiliki anak, tetapi tidak dalam sistem Islam. Perempuan merasa tenang menjadi seorang ibu karena kehidupannya sudah tercukupi dan negara tidak tinggal diam melihat rakyatnya merasa kesusahan dan segera membantu memenuhi kebutuhan hidup rakyatnya.
Kapitalisme merupakan ide yang salah dan membawa kesengsaraan. Hanya Islam satu satunya agama sempurna yang mampu mengatasi problem dalam kehidupan manusia. Agar tidak mudah terjerumus dalam ide kebarat-baratan. Salah satu tugas kita saat ini adalah dengan menyadarkan umat akan pentingnya menerapkan sistem Islam secara kafah.
Wallahualam bissawab.[]