Oleh: Rahmatul Aini
(Penulis & Aktivis Dakwah)
Presiden Prabowo Subianto mengatakan pemerintah mengalokasikan dana 17,15 triliun pada 2025 untuk rehabilitasi dan renovasi sekolah rusak, hal ini disampaikan pada puncak Hari Guru Nasional 2024. Ia juga menegaskan anggaran tersebut akan di gunakan untuk merenovasi baik sekolah negeri maupun swasta. Jumlah sasaran sekolah mencapai 10.440 sekolah di seluruh Indonesia, Prabowo menjelaskan dana renovasi tersebut akan langsung di transfer melalui rekening sekolah. (Kompas.com)
Memang secara real sekolah di Indonesia sangat memprihatikan, sarana dan prasarana pun tak memadai, bahkan ada yang sampai banjir didalam sekolah kalau sudah musim hujan, begitu rusak parah bangunan sekolah. Belum lagi bicara akses menuju sekolah, bahkan ada yang melewati jembatan gantung yang hampir roboh, ada yang berjalan kiloan meter dengan jalan yang becek, dan masih banyak sekelumit kisah para pejuang ilmu di negeri ini.
Sejatinya kerusakan yang terus memprihatinkan di lembaga sekolah bukan hanya kali ini terjadi, dari dulu pun sudah sangat krisis dari segi fasilitas, apalagi menyoroti sekolah yang ada di dalam kampung terpencil sangat tidak layak untuk belajar. Jika kerusakan pada sekolah dan fasilitas yang tak memadai sudah dari dulu, lalu kemana peran negara? Mengapa hal ini dibiarkan begitu saja tanpa ada kejelasan? Apa sebenarnya tupoksi para pemangku kebijakan dalam menyejahterakan rakyat?
Banyaknya bangunan sekolah yang tak layak menjadi bukti abainya negara terhadap generasi baik dalam hal keselamatan siswa, kenyamanan belajar, dan kegiatan belajar. Padahal proses belajar mengajar membutuhkan tempat yang aman, nyaman serta bangunan yang memadai. Negara tidak pernah menseriusi problem pendidikan hari ini, bukan hanya saja menuntut layaknya sekolah sebagai sarana proses belajar mengajar, tapi juga kurikulum pendidikan yang semakin rumit dan tak berbobot.
Negara abai terhadap persoalan sarana pendidikan, bahkan pendidikan dijadikan alat komersil inilah watak demokrasi kapitalisme, yang mampu menempuh pendidikan hanya orang yang punya duit, al hasil banyak dari generasi hari ini yang terpaksa harus berhenti sekolah walaupun cita-cita mereka setinggi langit bahkan ada diantara mereka yang terhenti sekolah adalah anak-anak cerdas yang punya potensi. Sungguh memprihatinkan!
Sistem demokrasi hari ini bukan satu dua orang yang tidak merasa di sejahterakan tapi semua rakyat tidak merasakan kesejahteraan lantaran abainya penguasa terhadap kebutuhan hidup rakyat (ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial) berapa banyak orang yang akan mengadukan perihal ini di hadapan Allah SWT.
Bukan hanya saja mengganti pemimpin tapi juga mengganti sistem, selama sistem kapitalis ini menjadi asas dalam kehidupan selama itu pula rakyat akan menjadi korban. Di peras manfaatnya, dimiskinkan secara sistemik.
Ada banyak hal yang mesti di kritisi dalam sistem hari ini termasuk dalam persoalan pendidikan, hal ini tentu berbeda dengan pendidikan dalam Islam. Islam menjadikan pendidikan sangat penting bagi rakyat, sehingga negara bertanggung jawab memberikan sarana dan prasarana yang berkualitas, negara Islam juga mampu mengelola ekonomi dengan baik sehingga ini menjadi penunjang terwujud nya kebutuhan bangunan sekolah, Pengelolaan SDA yang melimpah ruah sehingga tidak ada terjadi komersil dalam dunia pendidikan, biaya pendidikan GRATIS untuk semua kalangan baik kaya maupun miskin, muslim maupun non muslim dari jenjang paling rendah sampai jenjang tinggi. Negara menjamin sistem pendidikan yang berkualitas. Sehingga outputnya adalah generasi yang Sholih dan berkualitas menebar manfaat untuk ummat.
Penguasa dalam Islam memahami tupoksi mereka sebagai roo’in (riayah) menjamin kelangsungan hidup rakyatnya dalam kondisi sejahtera dari segala aspek, (ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial) dan masih banyak lagi, karena penguasa dalam Islam memahami tanggung jawab sebagai penguasa adalah amanah besar yang akan Allah mintai pertanggungjawaban kelak di akhirat, dan setiap rakyat yang tidak merasa sejahtera, akan menuntut mereka di hari penghisapan.
Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun an ra’iyyatihi.
Setiap dari kalian adalah pemimpin dan tiap tiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban. (HR Imam Bukhari)