Oleh : Fanny Fauziah Darmawan
Gen Z yang lahir di antara tahun 1997-2012, Gen Z merupakan peralihan dari gen sebelumnya yakni Milenial atau Y. Pada saat ini Gen Z sedang sangat jadi perbincangan karena gen ini ditahun-tahun ini merupakan gen yang sedang banyak kalangan remajanya antara 8-23 tahun. Dimana yang kita ketahui bahwa remaja merupakan salah satu faktor yang menentukan bagaimana sebuah negara kedepannya, tergantung bagaimana kualitas dari para remaja tersebut.
Sayangnya saat ini banyak kasus-kasus Gen Z yang sangat memprihatinkan. Seperti yang di kutip dari Kompas.com (22/10/2024) yakni remaja diduga bunuh diri di area parkir Metropolitan Mall, dengan meninggalkan sebuah kalimat pendek di kertas yang ditemukan di topinya yang tertulis :
Aku juga ingin bahagia dan memiliki kehidupan normal. Dunia itu indah, tapi tidak dengan duniaku. I’m gagal.
Dan juga seperti yang dikutip dari RadarJogja.com bahwasannya 9,9 juta Gen Z di Indonesia tergolong pengangguran yang dimana telah mencapai titik kritikal (22/10/2024). Ini berarti sekitar 22,25% dari total penduduk usia 15-24 tahun masih belum memiliki pekerjaan stabil.
Gen Z saat ini tumbuh di tengah arus teknologi yang begitu deras, dari ponsel pintar hingga media sosial yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, teknologi memberi banyak kemudahan dan manfaat. Namun, dibalik segala manfaatnya ada juga dampak terhadap kesehatan mental generasi muda, dan banyak penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi berlebih ada peningkatan stres, kecemasan, hingga depresi.
Banyaknya kasus dikalangan Gen Z seperti bunuh diri, gangguan mental, pengangguran, UKT mahal dan lain sebagainya ini menandakan bahwa Gen Z saat ini tidak sedang baik-baik saja. Di sisi lain hari ini Gen Z terjebak dalam gaya hidup rusak mulai dari FOMO, konsumerisme yakni gaya hidup yang kebiasaan membeli barang berlebihan, dan hedonisme gaya hidup yang bermewah-mewah. Terkadang mereka akan memaksakan untuk memenuhi gaya hidup tersebut yang pada akhirnya akan menyulitkan dirinya sendiri.
Sebenarnya Gen Z memilliki modal besar sebagai agen perubahan, termasuk sistem kehidupan yang shahih. Sistem saat ini menjauhkan Gen Z dari perubahan hakiki dengan islam kaffah(menyeluruh). Padahal hanya dengan islam lah generasi dan umat manusia akan selamat.
Islam akan memberikan pendidikan sedari dini sampai perguruan tinggi. Pendidikan yang layak dan berbasis akidah, sehingga generasi muda akan dikuatkan dari segi mental serta menjauhkan dari gaya hidup sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.
Pemuda akan menuntut ilmu ilmu untuk diamalkan dan bermanfaat bagi umat, bukan semata untuk memperoleh materi dan harta dunia. Lekatnya pemahaman agama pada generasi muda Islam menjadikan mereka tidak mudah rapuh, depresi dan pendek akal.
Generasi muda akan terarah dan terjamin kehidupannya. Dan menyadari bahwa kebahagiaan bukanlah berasal dari perolehan materi yang sebanyak-banyaknya, melainkan ketika seorang hamba meniti jalan kehidupan di jalur yang Allah Ta’ala ridhoi.
Keimananlah yang melandasi setiap pola pikir dan sikap remaja dan mau terikat dengan hukum syariat, yaitu seperangkat aturan yang bisa menjadikan manusia manapun yang menerapkannya akan hidup tentram, sejahtera, bahagia bahkan mulia, dipastikan akan menjamin kesejahteraan bagi seluruh manusia bahkan alam semesta.
Politik ekonomi islam, misalnya, menjamin terpenuhinya kebutuhan hidup individu per individu, termasuk remaja. Kewajiban nafkah ditetapkan di pundak laki-laki atau wali, tidak menjadi tanggung jawab perempuan. Jika wali tidak sanggup, negara akan turun tangan memberikan bantuan.
Dan yang sekarang harus dilakukan adalah membawa remaja muslim untuk masuk kedalam circle pembinaan islam kaffah sehingga akan terbentuk pemahaman yang utuh tentang islam. Ini akan menjadi pegangan bagi visi hidup remaja kedepan.
Pembinaan yang kontinu ini harus membersamai mereka karena dalam setiap langkah nya pasti ada hambatan dan halangan dijalan hidupnya, mereka butuh penguatan dan dimotivasi, agar menganggap semua ini adalah challenge baginya untuk tetap memegang teguh islam kaffah.
Dan juga harus senantiasa adanya aktivitas dakwah berjamaah, agar pemahaman islam yang sudah disampaikan bisa tersampaikan kembali ke remaja yang lainnya. Sehingga benar-benar bisa membuang gaya hidup sekulerisme.
Wallahu’alam bishawab