Oleh : Sutarni
Meskipun pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) mengalami perlambatan yang berdampak pada sepinya agenda-agenda besar pada masa Pemerintahan Prabowo Subianto, namun tak melunturkan semangat Kota Balikpapan untuk terus berkreasi. Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan melalui Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (DPOP) tetap mengoptimalkan sektor ekonomi kreatif (ekraf) dan pariwisata. Hal itu dikatakan Kepala DPOP Balikpapan Cokorda Ratih Kusuma, saat pemberian bonus para atlet berprestasi, Senin (4/11/2024).
Optimalisasi sektor ekraf dan pariwisata sudah menjadi hal mutlak sebagai langkah menyiapkan diri dan evaluasi sebagai beranda IKN,” ujar Ratih. Ratih menekankan, Pemkot Balikpapan tetap menjalin kerjasama dengan daerah lain, yang tidak berpengaruh terhadap kebijakan. Salah satu jalinan kerjasama yang tengah gencar diperjuangkan adalah terciptanya pattern of tourism bersama yakni antara Bali, Balikpapan, dan IKN. Untuk merealisasikan itu, DPOP Balikpapan terus berkoordinasi dengan Otorita IKN serta DPOP Bali.
Demi untuk mencapai Upaya untuk meningkatkan ekonomi kota Balikpapan, sebagai beranda IKN ditingkatkanlah Ekraf dan pariwisata, dengan terciptanya pattern of tourism atau pola perjalanan wisata yaitu alur perjalanan wisata yang saling terkait dalam satu destinasi wisata, . “Bila itu terealisasi maka bisa saja, Bali yang mampu mendatangkan turis 100.000 per hari, kemudian 10.000 turis bisa dibawa ke Balikpapan, jadi mereka dari Bali kemudian ke Balikpapan, IKN dan kembali ke Bali satu paket,” terang ratih.
Padahal kalau melihat lebih mendalam pastinya akan berpengaruh pada sisi budaya yang dibawa dari luar dan dampak sosial pada Masyarakat, dimana sebelumnya daerah Bali dengan Masyarakat ketimuran karena dampak pariwisata terjadi Culture shock atau gegar budaya sehingga Bali menjadi liberal, bisa terlihat dari laporan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali mencatat sejak tahun 1987 hingga tahun 2024 terjadi peningkatan kasus HIV-AIDS. Setiap tahun diperkirakan meningkat 100-200 kasus. Hingga 2024, tercatat 30 ribu kasus.“Sampai bulan Maret 2024 sudah mencapai 30 ribu lebih. Itu data dari tahun 1987. Jadi bukan baru ditemukan dengan jumlah tersebut, tapi dari tahun 1987 hingga ditemukan 30 ribu kasus,” ungkap A.A. Ngurah Patria Nugraha, Kepala Sekretariat KPA Bali, kepada wartawan di kantor KPA Bali, Kamis (wacanabali,10/9/24).
Sehingga dengan melihat pengaruh dari Pariwisata di Bali bisa menjadi pertimbangan bagi semua pihak dan pemerintah Balikpapan agar melihat dampak buruk yang akan merusak kehidupan sosial dan budaya Masyarakat Balikpapan, sehingga pemerintah lebih bijak lagi mengambil Keputusan untuk terciptanya pattern of tourism ke Balikpapan, Pemerintah mengoptimalkan sektor ekraf dan pariwisata untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi padahal negeri kita kaya akan sumber daya Alam dan energi, akan tetapi hasil kekayaan tidak dinikmati dan mensejahterakan Masyarakat, .Inilah sistem sekuler kapitalisme yang dipakai dinegara kita, memisahkan agama dari kehidupan untuk meraih keuntungan.
Sesungguhnya Islam tidak melarang keberadaan pariwisata, bahkan Islam mengaturnya dengan sangat terperinci. Di sinilah pentingnya kita untuk mengkaji kembali pandangan Islam tentang pariwisata, juga praktik atau penyelenggaraan pariwisata pada masa ketika aturan Allah diterapkan secara sempurna. Semua ini perlu kita kaji untuk dijadikan sebagai pijakan agar apa pun yang direncanakan akan membawa kebaikan bagi umat Islam sehingga membawa pada keberkahan.
Wisata” dalam Islam adalah mengambil pelajaran dan peringatan. Dalam Al-Qur’an terdapat perintah untuk berjalan di muka bumi. Allah berfirman: “Katakanlah, ‘Jelajahilah bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (QS Al-An’am: 11). Dalam ayat lain, “Katakanlah, ‘Berjalanlah kamu di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa.” (QS An-Naml: 69).
Wallahualam bissawab.