Oleh Hasna F.K
Pegawai Swasta
Perbincangan tentang pergantian kurikulum merdeka kini semakin gencar terdengar, seiring dengan rencana pemerintah untuk menerapkan Kurikulum Deeplearning. Rencana ini bertujuan untuk mendalami pemahaman siswa melalui pendekatan yang lebih aktif, dengan metode seperti Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning. Meskipun, konsep-konsep ini berusaha menghadirkan pengalaman belajar yang lebih mendalam, masalah mendasar yang sering terlupakan adalah paradigma dasar yang melandasi setiap kurikulum.
Seperti yang sering terjadi, setiap pergantian Menteri Pendidikan selalu diikuti dengan perubahan kebijakan, dan kebanyakan orang berharap perubahan ini akan membawa perbaikan nyata pada kualitas pendidikan. Namun, meskipun sudah banyak kurikulum yang diperkenalkan, masalah yang sama tetap muncul. Pada dasarnya, kurikulum-kurikulum tersebut seringkali masih berakar pada paradigma sekularisme dan kapitalisme, yang memisahkan agama dari kehidupan serta menjadikan materi sebagai tujuan utama. Akibatnya, banyak kurikulum yang lebih menekankan pada persiapan generasi untuk dunia kerja, tanpa cukup memberi perhatian pada pembentukan karakter dan moral peserta didik.
Meskipun jumlah lulusan terus meningkat, krisis moral dan sosial di masyarakat tidak menunjukkan tanda-tanda membaik. Pendidikan yang berfokus pada pencapaian materi dan karir seringkali melahirkan generasi yang cenderung individualis dan tidak peka terhadap dampak sosial dari tindakannya. Padahal, tujuan pendidikan seharusnya adalah mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berbudi pekerti luhur dan mampu menyelesaikan masalah di masyarakat.
Berbeda dengan Islam. Pendidikan Islam yang berlandaskan akidah Islam memberikan arah yang jelas dan komprehensif dalam membentuk generasi penerus. Pendidikan Islam tidak hanya fokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan akhlak, iman, dan keterampilan. Tsaqafah Islam, yang meliputi pemahaman dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, menjadi fondasi utama yang membentuk generasi yang berkarakter kuat, berjiwa pemimpin, dan mampu menjadi solusi bagi permasalahan umat.
Generasi yang dididik dengan sistem pendidikan Islam diharapkan dapat menjadi ulama dan ilmuwan yang ahli di berbagai bidang, baik ilmu keislaman maupun sains dan teknologi. Mereka akan menjadi penerang dalam kegelapan kebodohan dan memberikan solusi nyata bagi berbagai masalah yang dihadapi masyarakat.
Maka, umat harus menyadari meskipun banyak kurikulum baru yang diperkenalkan dengan harapan memperbaiki kualitas pendidikan, itu semua tidak akan menghantarkan kepada perbaikan hakiki bagi generasi. Perubahan yang sesungguhnya hanya akan tercapai jika kita kembali pada dasar yang lebih kokoh dan berlandaskan akidah Islam. Dengan demikian, sistem pendidikan yang berlandaskan ajaran Islam akan mampu mencetak generasi yang beradab, cerdas, dan siap memberikan kontribusi nyata bagi umat dan dunia.
Saatnya, kita kembali kepada sistem pendidikan yang berlandaskan akidah Islam dalam bingkai khilafah, inilah satu-satunya sistem pendidikan yang selama 1300 tahun menjadi rujukan dunia dalam hal ilmu pengetahuan. Banyak sekali ilmuwan hebat yang terlahir dari rahim khilafah. Kemajuan pendidikan pada masa keemasan Islam ini, terbukti menjadi rujukan peradaban lainnya. Salah satunya apa yang diungkap oleh Tim Wallace-Murphy (WM) yang menerbitkan buku berjudul What Islam Did for Us: understanding Islam’s Contribution to Western Civilization (London: Watkins Publishing, 2006). Buku WM ini memaparkan fakta tentang transfer ilmu pengetahuan dari Dunia Islam (khilafah) ke Dunia Barat pada abad pertengahan.
Wallahu a’lam bishshawwab
