Oleh Sriyanti
Ibu Rumah Tangga, Pegiat Literasi
Angka stunting di Kabupaten Bandung masih cukup tinggi, hingga masih memerlukan perhatian serta penanganan yang serius dan komprehensif. Pada tahun 2023 persentasenya mencapai 29 persen, sementara target nasional di 2024 adalah 14 persen. Untuk itu Pjs Bupati Bandung Dikky Achmad Sidik meminta pada semua pihak, untuk fokus dalam upaya penurunan stunting di wilayahnya dan menetapkan permasalahan ini sebagai salah satu program prioritas nasional. Untuk membahas hal tersebut Pemkab melaksanakan rapat koordinasi, bersama sejumlah pejabat pemerintah Kabupaten Bandung dan Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
Dalam menangani kasus stunting Pemkab Bandung telah melakukan upaya, di antaranya dengan membentuk tim penurunan secara berjenjang hingga tingkat desa. Selain itu pemerintah juga telah melakukan berbagai inovasi yang diinisiasi oleh berbagai pihak seperti puskesmas, masyarakat, ataupun pokja PKK. Prioritas sasarannya adalah kelompok yang beresiko terkena stunting yaitu balita, ibu hamil dan menyusui. Namun sangat disayangkan berdasarkan informasi dari daerah, tidak sedikit dari para kepala desa dan kader yang belum memahami masalah kesehatan ini. Sehingga menjadi kendala penanganan dan penurunannya. (dara.co.id, 01/11/2024)
Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan balita, yang disebabkan oleh kekurang gizi baik masih dalam kandungan ataupun saat masa pertumbuhan. Masalah kesehatan ini pun menjadi isu nasional, karena persentasenya masih tinggi tak terkecuali di Kabupaten Bandung. Karenanya kasus ini harus segera ditangani, karena akan berpengaruh terhadap masa depan generasi dan juga bangsa.
Di tengah ancaman bahaya stunting, sangat menyedihkan ketika diketahui masih ada para pemimpin di daerah dan para kader, yang belum memahami masalah kesehatan ini. Lantas bagaimana permasalahan tersebut akan terselesaikan jika penanggung jawabnya saja tidak paham? Ketidaktahuan mereka menunjukkan ketidak seriusannya dalam mengurus masyarakat.
Memang, masalah stunting bukanlah sekedar masalah teknis karena ketidakpahaman kader dan petugas lainnya. Lebih dari itu, problem ini sangat sistemik menyangkut persoalan ideologis. Paradigma kapitalisme yang diadopsi negeri ini, telah menjadi akar dari setiap permasalahan di berbagai aspek kehidupan rakyat seperti kesehatan, ekonomi, pendidikan, kesejahteraan dan sebagainya.
Liberalisme atau kebebasan yang merupakan salah satu asas dari sistem kapitalis, telah menyasar generasi muda sehingga terjerumus pada pergaulan bebas. Tidak sedikit dari para remaja yang hamil dan melahirkan di luar nikah. Minimnya pemahaman dan ketidaksiapan menjadi seorang ibu, menyebabkan tidak tahu cara mengurus anak secara ideal, hingga banyak balita yang terganggu pertumbuhannya dan mengalami stunting.
Begitu juga dalam aspek perekonomian, penerapan ekonomi kapitalis telah menjadikan kesenjangan sosial di tengah masyarakat. Kekayaan dan kesejahteraan hanya berputar di kalangan tertentu saja, terutama para oligarki dan pemilik modal. Sementara rakyat kalangan bawah semakin sengsara, gelombang PHK dimana-mana, sulitnya mendapatkan pekerjaan, persaingan usaha yang tidak seimbang dan sebagainya, menyebabkan para pencari nafkah tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok keluarganya. Mereka tidak akan memikirkan makanan yang dikonsumsinya bergizi atau tidak, karena untuk menyediakan sesuatu yang bisa disantap saja sulit. Maka tak heran ketika banyak anak-anak yang menderita gizi buruk, busung lapar, bahkan ada yang sampai meregang nyawa karena kelaparan. Sungguh ironis, semua ini terjadi di negeri gemah Ripah loh jinawi. Juga di tengah para penguasa dan pengusaha yang gemar Flexing, sementara rakyatnya terkena stunting.
Hal di atas sangat berbeda dengan pengurusan dalam Islam. Negara akan menjadi pelayan, penguasa dan pelindung bagi umat. Menjadi seorang penguasa adalah amanah besar yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban. Rasulullah saw bersabda:
“Seorang imam (pemimpin) adalah penggembala bagi rakyatnya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas gembalaannya. (HR. Bukhari)
Oleh karena itu, dengan landasan keimanan seorang pemimpin akan sungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya. Pemerintah akan menjamin seluruh kebutuhan asasi masyarakat, baik yang bersifat individu seperti sandang, pangan, papan. Ataupun kebutuhan kolektifnya seperti kesehatan, pendidikan, keamanan dan sebagainya, secara kepala per kepala.
Untuk kebutuhan kolektif umat, negara akan hadir secara langsung dengan menyediakan berbagai fasilitas dan layanan publik. Seperti sekolah, rumah sakit, jalan dan sarana prasarana penunjang lainnya. Semua akan disediakan secara merata di berbagai wilayah, dengan kualitas dan kuantitas terbaik, sehingga masyarakat dapat mengaksesnya secara mudah, murah bahkan gratis. Sedangkan untuk pemenuhan kebutuhan pokok individu, pemerintah akan bertanggung jawab dengan cara menyediakan lapangan pekerjaan yang layak. Dengan begitu para kepala keluarga dan penanggung nafkah, tidak akan kesulitan mencari kerja, sehingga mereka mampu memenuhi kebutuhan pokok keluarganya termasuk makanan sehat dan bergizi seimbang. Dengan penerapan sistem ekonomi Islam yang berlandaskan syariat, negara akan mampu menyediakan dan menjamin seluruh kebutuhan pokok masyarakat.
Selain itu negara yang menerapkan syariat Islam akan menjadi pelindung bagi akal, harta, nyawa, keturunan. Juga akan melindungi umat dari pemikiran yang merusak seperti, liberalisme, sekularisme, kapitalisme dan sebagainya. Sehingga umat serta generasi akan hidup sehat secara fisik dan mental, tidak akan pernah ditemukan kasus anak yang mengalami stunting. Karena pencegahannya pun dilakukan secara sistemik, yaitu menerapkan aturan yang berasal dari Sang Pencipta dan Pengaturan manusia, Allah Swt.
Oleh karena itu tidak ada solusi lain untuk semua permasalahan kehidupan termasuk kasus stunting, kecuali dengan menerapkan kembali Islam dalam sebuah sistem kepemimpinan. Sebagaimana dulu pernah diterapkan selama kurang lebih 13 abad lamanya, sehingga umat Ikembali hidup dalam kemuliaan dan kesejahteraan.
Wallahu a’lam bi ash shawab