Paradoks Pertumbuhan Ekonomi Ala Kapitalis

Oleh: Astriani Lydia, S.S

Meski daya beli masyarakat dinilai sedang menurun, namun pelaku usaha masih ada yang membangun mall baru. Salah satunya Pakuwon Mall Bekasi yang berlokasi di kawasan Pekayon Raya, Bekasi Selatan dengan luas 3,8 hektar.

Mengutip dari RRI.co.id, Presiden Direktur Pakuwon Group Stefanus Ridwan Suhendra mengatakan, saat pembukaan Pakuwon Mall Bekasi,
“Meski baru dibuka, tingkat okupansi mall mencapai 95 persen. Kami percaya dengan kehadiran Pakuwon Mall ini akan membuat Bekasi menjadi kota yang modern dan dapat meningkatkan perekonomian,” Jumat (22/11/2024).

Kehadiran mall ini menurutnya juga, dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat melalui penyerapan tenaga kerja. Karena di Pakuwon Mall Bekasi ada 250 tenant yang kebanyakan tenant jenama internasional, diantaranya jenama fesyen dari Korea.

Pakuwon Mall Bekasi mengusung konsep ‘One of A Kind lifestyle, Experience, Entertainment’ dan ‘one-stop shopping’. Pengunjung bukan hanya belanja, tapi juga bisa bermain dengan di tiga wahana dengan tema ‘Playground, arcade’ dan ‘adventure’.

Yang menarik, Pakuwon Mall Bekasi juga dilengkapi dengan ‘Amphitheater, nursery room’ dan masjid megah di dalam mall. Sehingga nyaman bagi pengunjung mulai dari keluarga, profesional, milenial dan anak-anak muda.

“Lebih dari sekadar tempat belanja, kehadiran mall ini diharapkan bisa memberikan dampak positif. Utamanya berkontribusi pada pertumbuhan industri ritel dan kreatif,” ujar Direktur Pakuwon Group Eiffel Tedja.

Ketua Umum  Asosiasi Pengusaha Ritel Merk Global Indonesia (APREGINDO) Handaka Santosa sepakat dengan pendapat tersebut. Handaka mengatakan Indonesia harus punya tempat belanja yang lengkap dengan brand internasional.

“Supaya masyarakat kelas atas mau membelanjakan uangnya di dalam negeri. Kebanyakan dari mereka seringnya belanja ke Malaysia dan Singapura karena harga barang-barang di sana lebih murah,” ucap Handaka.

Menurut Handaka, potensi daya beli masyarakat masih cukup besar, utamanya dari kelompok masyarakat kelas atas. “Ini data LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) ya,  masyarakat yang memiliki tabungan di atas 5 miliar jumlahnya justru naik,” katanya. (RRI.co.id, 23/11/2024)

Di saat kelompok masyarakat kelas menengah menurun, kelompok masyarakat kelas atas harus didorong daya belinya. Sehingga konsumsi masyarakat tetap tumbuh sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pembangunan Semu Ala Kapitalis

Pembangunan perkotaan ala kapitalistik dilakukan berorientasi pada ekonomi.
Ukuran kinerja ekonomi dengan menggunakan pertumbuhan adalah ukuran semu. Secara fakta, tingginya angka pertumbuhan yang merupakan representasi dari produksi barang dan jasa tidak secara otomatis merefleksikan ekonomi sehat. Fokus pada produksi tanpa dibarengi dengan mekanisme distribusi barang dan jasa juga akan menimbulkan masalah yang baru yaitu gap kaya miskin.

Sementara itu, pembangunan ini pun menjadi magnet bagi warga luar daerah untuk datang mengadu nasib. Mereka berharap memperoleh penghasilan yang lebih baik dari sebelumnya. Daya tarik pembangunan perkotaan ini tentunya menimbulkan berbagai persoalan baru seperti bertambahnya jumlah manusia yang tinggal di dalamnya, bertambahnya volume kendaraan, bertambahnya tuna wisma dan permasalahan lainnya, termasuk bertambahnya utang yang lebih besar akibat dibukanya keran investasi tak terkecuali investasi asing. Inilah paradoks pertumbuhan ekonomi ala kapitalis.

Pembangunan Dalam Islam

Ukuran keberhasilan dan kesejahteraan dalam Islam adalah terpenuhinya kebutuhan mendasar penduduk individu per individu. Artinya, jika masih ada individu yang belum bisa mengakses kebutuhan pokoknya seperti makanan atau perumahan, kinerja ekonominya belum bisa dikatakan baik. Dengan ukuran seperti ini lebih jelas dan memudahkan untuk mengambil solusinya

Sementara itu, pertumbuhan ala kapitalisme yang berfokus pada tingginya produksi barang dan jasa, kemudian menghitung pendapatan per kapita, justru tidak dapat mencerminkan kondisi yang sebenarnya karena kondisi seseorang dilihat dari sisi rata-rata. Untuk itu, butuh indikator baru dalam menilai keberhasilan ekonomi.

Agar dapat mewujudkan pembangunan yang membawa kemaslahatan dan kesejahteraan, perlu suatu perubahan mendasar dengan mengubah paradigma materialistis di level masyarakat maupun elite kekuasaan.

Dalam sistem Islam, tugas negara adalah memenuhi kebutuhan dasar setiap warganya, bukan kebutuhan sekunder, apalagi tersier. Pembangunan akan diarahkan pada pemenuhan kebutuhan rakyat, bukan untuk tujuan mengikuti tren atau model negara lain. Aktivitas berjalan dengan arah sesuai dengan syariat sehingga tidak berkembang kehidupan yang mengagungkan materialisme atau hedonisme, serta tidak ada kesempatan bagi oligarki untuk mengambil keuntungan atas kebijakan yang ditetapkan. Semoga sistem Islam segera tegak, agar kesejahteraan yang hakiki dapat dirasakan seluruh umat.
Wallahu a’lam bisshawab

Nama

#Berita,4,#Cerpen,2,#hut,2,#Internasional,1,#Kesehatan,1,#Menhan,1,#Olahraga,1,#Opini,148,#Otomotif,1,#Padang,3,#Polri,4,#Teknologi,2,#TNI,7,Anti Korupsi,1,Bank Nagari,2,Batu Sangkar,1,Bela Negara,2,Bencana,1,Bencana alam,1,Berita,170,BNI,1,BNPB,1,BPBD Agam,1,BPBD Sumbar,1,BPJN,1,BRI,5,Cerpen,2,Diktisaintek,1,Diplomasi,1,DPRD Kota Payakumbuh,3,Filupina,1,FKAN Pauh IX,2,Fogging,1,GKMI,1,Go green,1,Grasstrack,1,Hari Armada,1,imporsusu,1,Intan Jaya,1,Internasional,3,Islam,1,Iven Wisata,1,Jabatan,1,Jakarta,11,Jateng,8,Jatim,4,Jawa Tengah,1,JNE,1,Judi Online,1,Kabupaten Limapuluh Kota,11,Kalimantan,3,Kampus,3,kapitalisme,1,Kasad,2,Keagamaan,2,Kementerian Komdigi,1,kepemimpinanIslam,1,Kesehatan DBD,1,Keselamatan,1,Ketahanan pangan,1,khilafah,1,Koarmada,9,Kompetisi,1,Kostrad,2,Kota Payakumbuh,42,Kunjungan,1,Kupang,2,Lanud,1,Lanud Adi Sumarmo,2,Lapas Suliki,1,Lewotobi,1,mahasiswa,3,malang,2,Menembak,2,Menkomdigi,1,Mentan,1,Mentawai,1,Milad,1,MIPI,1,Misi,1,Monas Menjadi Saksi Napak Tilas 1 Dekade Hafizh On The Street,1,Muhammadiyah,1,MUI,1,Mutasi,1,Nagari Simalanggang Raih Peringkat Kedua Nasional dalam Apresiasi Keterbukaan Informasi Publik Desa 2024,1,Nasional,13,Natal,1,NTT,2,Olah raga,3,Opini,408,Opini nusantaranews.net,29,Opino,1,Otomotif,1,Pagaruyung,1,Panglima TNI,3,Papua,14,Pati,5,Patroli,1,Pelayaran,2,pembangunan,1,Pemkab Mentawai,1,Pendidikan,2,Penyelundupan,1,Perbatasan,2,Perguruan Tinggi,1,Pertanian,1,Pessel,1,peternaksusu,1,Pilkada,7,POTRET BURAM PENDIDIKAN SISTEM KAPITALIS SEKULER,1,PPATK,1,presiden,1,Presiden Prabowo,1,Puisi,2,Puisi Nusantaranews,1,Puting beliung,1,PWI,4,Rajab,1,Rektor,1,RS Mitra Bangsa,1,SALATIGA,1,satgas,3,Satgas TNI,6,Sejarah,6,seminar,1,sinergi,1,Solok,35,sorong,1,surabaya,2,Surakarta,2,Sweeping,1,Tanah Datar,4,Teknologi,2,TMP,1,TNI,12,TNI AD,4,TNI AL,4,TNI AU,2,Toleransi,2,UKSW,2,Veteran,1,Wakasad,2,wartawan,1,ziarah,1,
ltr
item
contoh nusantara: Paradoks Pertumbuhan Ekonomi Ala Kapitalis
Paradoks Pertumbuhan Ekonomi Ala Kapitalis
contoh nusantara
https://seobost24.blogspot.com/2024/11/paradoks-pertumbuhan-ekonomi-ala.html
https://seobost24.blogspot.com/
https://seobost24.blogspot.com/
https://seobost24.blogspot.com/2024/11/paradoks-pertumbuhan-ekonomi-ala.html
true
6213777001862568329
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content