Oleh Irma Sari Rahayu
“Kami hanya ingin bermain seperti anak-anak di negara lain. Jika anak-anak lain berhak bahagia, apakah kami tidak?”
Pernyataan bernada harap diiringi tangis pilu terucap dari bibir mungil seorang anak Palestina. Sambil menggendong adiknya yang terluka, gadis itu tak henti-hentinya berteriak meminta keadilan kepada dunia. Ia tak sendiri. Ribuan anak-anak Palestina lainnya pun berada dalam kondisi memprihatinkan.
Setahun lebih genosida Israel berlangsung atas rakyat Palestina. Puluhan ribu tewas, termasuk anak-anak. Bagi yang masih hidup, tak lebih baik kondisinya. Anak-anak harus menjadi yatim piatu, cacat, dan kelaparan parah. Sungguh tragedi kemanusiaan akibat kebrutalan Israel yang tak dapar terjangkau oleh nalar terpampang nyata setiap hari.
Pada tanggal 20 November lalu diperingati sebagai Hari Anak Sedunia atau World Children Day. Bertemakan Listen to The Future, UNICEF dalam laman resminya, mendorong dunia untuk mendengarkan harapan, impian dan visi anak-anak untuk masa depan. Tak hanya itu, hak-hak anak untuk berpartisipasi juga patut untuk dipromosikan. (cnnindonesia.com, 20-11-2024)
Sejarah Hari Anak Sedunia
Hari anak sedunia pertama kali diselenggarakan pada tahun 1954. Saat itu namanya adalah Universal Children’s Day. PBB melalui UNICEF ( United Nation International Children’s Emergency Fund) kemudian menetapkan peringatan Hari Anak Dunia menjadi 20 November. Tanggal 20 November ditetapkan sebagai peringatan Hari Anak sedunia karena Majelis Umum PBB mengadopsi Deklarasi Hak-hak Anak tahun 1959. Di tanggal yang sama tajun 1959, Majelis Umum PBB juga mengadopsi Konvensi Hak-hak Anak atau CRC (Convention on The Right of the Child).
Konvensi ini adalah kesepakatan internasional pertama untuk melindungi hak-hak anak yang mencakup hak bertahan hidup, berkembang hingga perlindungan dari kekerasan dan ekploitasi. Sejak itulah, setiap tanggal 20 November diperingati sebagai Hari Anak Sedunia untuk mengajak dunia memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk didengar, diberdayakan dan berperan menciptakan masa depan sesuai keinginan mereka.
Sudahkah Dunia Mendengar Harapan Anak Palestina?
Kamis (21/11) PBB mengumumkan adanya lonjakan tiga kali lipat jumlah anak Palestina yang dibunuh tentara Israel di daerah Tepi Barat. Juru Bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan sejak 7 Oktober tahun lalu, rata-rata empat anak Palestina dibunuh di Tepi Barat. Sementara, Otoritas Kesehatan Palestina melaporkan per 29 September sekitar 17.000 anak Palestina kehilangan nyawa akibat serangan Israel di Jalur Gaza.
Sungguh ironis. Di tengah gegap gempita seruan untuk mendengarkan harapan dan impian anak-anak di seluruh dunia, nyatanya tak satu pun yang mendengar jeritan anak-anak Palestina. Tema Listen to the Future dalam perayaan Hari Anak Sedunia nyatanya hanyalah slogan kosong pemanis bibir.
Setahun sudah dunia menutup mata atas penderitaan rakyat Palestina. Penyelenggaraan Hari Anak Sedunia hanyalah kamuflase dan bukti gagalnya PBB terutama UNICEF dalam membela hak-hak anak Palestina. Padahal, kengerian demi kengerian berlangsung setiap hari. Anak-anak Palestina menderita kelaparan, kedinginan, dan kesedihan mendalam karena kehilangan orang tua, keluarga, dan rumah mereka. Hak bersekolah terenggut, bahkan hak untuk hidup mungkin tak lagi mereka miliki.
Harapan anak-anak Palestina pastilah sama dengan anak-anak di seluruh dunia. Mereka menginginkan agresi Israel berhenti agar dapat hidup tenang dan bahagia. Bersekolah, mengaji, beribadah, dan melanjutkan masa depan dengan penuh ketenangan. Jika PBB dan UNICEF sebagai lembaga dunia yang digadang-gadang sebagai pihak yang bertanggung jawab atas anak-anak Palestina saja diam, lalu kepada siapa harapan nereka akan disandarkan?
Mewujudkan Masa Depan Anak Palestina
Berharap kepada PBB dan pemimpin negara dunia saat ini untuk melindungi anak-anak Palestina layaknya fatamorgana. Dunia sudah buta, bisu, dan tuli terhadap tangis anak Palestina. Kaum muslim pun tak berdaya tersekat dalam kungkungan nasionalisme.
Anak-anak Palestina layaknya anak-anak umat Islam lainnya. Mereka ada dalam satu tubuh kaum muslim. Maka dibutuhkan persatuan umat Islam di bawah kepemimpinan khalifah untuk membebaskan penderitaan rakyat Palestina. Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Haram bagi umat Islam untuk menyerahkan urusan anak-anak Palestina kepada lembaga-lembaga internasional di bawah kendali kaum kafir. Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran[3]: 118)
Umat Islam harus meyakini, yang mampu untuk mendengar dan mewujudkan impian anak-anak Palestina dan anak-anak di seluruh dunia bukan PBB dan organisasi-organisasi di bawah naungannya. Anak-anak Palestina dan anak-anak di belahan negeri-negeri muslim lainnya akan bahagia di bawah perlindungan Khilafah Islamiyah.
Wallahua’lam.