Oleh : Sri Nawangsih
(Ibu Rumah Tangga)
Donald Trump dari Partai Republik memenangkan Pemilihan Presiden AS, mengalahkan Kamala Harris dari Partai Demokrat dengan 277 suara elektoral. Faktor kemenangan Trump termasuk kekecewaan publik terhadap pemerintahan Joe Biden terkait ekonomi, imigrasi, dan dukungan AS terhadap Zionis Yahudi. Trump menarik suara pemilih muslim dengan janji menghentikan perang.
Padahal, AS, baik di bawah Demokrat maupun Republik, konsisten mendukung Zionis karena pengaruh kuat lobi Yahudi dan kepentingan strategis. Kebijakan ini meliputi dukungan ekonomi, politik, dan militer bagi Israel. Sama seperti pendahulunya pada Desember 2017 Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
Meskipun Trump berjanji memperbaiki hubungan dengan dunia muslim, rekam jejaknya menunjukkan kebijakan anti-Islam, seperti Muslim Ban dan dukungannya terhadap penguasaan Israel di Tepi Barat. Peningkatan islamofobia selama kepresidenan Trump menunjukkan konsistensi kebijakan AS yang memusuhi umat Islam.
Merupakan suatu kejahilan jika kaum Muslim menaruh harapan dan kepercayaan pada negara-negara Barat Kafir penjajah seperti AS yang begitu vulgar memusuhi umat Islam. Mereka telah banyak menyebabkan penderitaan yang luar biasa bagi kaum.Muslim. AS, misalnya, mendukung penuh negara Zionis dalam genosida di Gaza yang telah menewaskan 43 ribu warga sipil, yang mayoritasnya adalah wanita dan anak anak. Karena itu negara-negara kafir penjajah seperti AS negara yang tidak akan berhenti menimpakan derita bagi umat.
Kaum Muslim semestinya membangun kekuatan sendiri untuk menyelesaikan urusan mereka dan tidak berharap pada pemimpin kafir yang terus mendukung penjajagan zionis dan menindas Islam.
Umat Islam sedunia harus sudah mulai bergerak untuk bersatu dalam ukhuwah Islamiyah, menghapuskan sekat kebangsaan, tapal batas sektoral, agar kaum Muslim bisa bersatu.
Wallahu a’lam bi’ashwab.