Oleh Ummu Aiza
Aktivis Muslimah
KBRN Banyumas mengajak pemilih pemula dan muda untuk mempergunakan hak pilihnya dalam Pilkada Serentak yang akan dilaksanakan 27 November 2024. KPU Provinsi Jateng menggelar Goes To Campus, yang berlangsung di Auditorium Graha Widyatama Prof. RubinyangoMisman Unsoed Sabtu (9/11/2024) pagi-malam hari. Sejumlah acara digelar untuk menarik perhatian mahasiswa. Termasuk menggelar sosialisasi Pilkada Serentak 2024, agar mahasiswa khususnya pemilih pemula dan pemilih muda mempergunakan hak pilihnya.
Sementara itu, Dosen Politik dari fisip Unsoed Ahmad Sabiq menyatakan, pemilih pemula dan muda menjadi penentu dalam pilkada. Namun, partisipasi mereka tergantung banyak faktor, mulai dari pengetahuan pemilih muda dan pemula yang lebih tinggi dibanding pemilih tua, ujarnya. Selain itu menurutnya, pemilih muda dan pemula juga akan menuntut sejumlah hal seperti: lapangan pekerjaan, upah, pendidikan dan jaminan sosial. Sehingga menurutnya, siapapun calon yang maju harus memberikan jawaban atas keinginan dari pemilih pemula dan pemilih muda. Sumber: RRI.co.id
Tuntutan seperti lapangan kerja, upah jaminan sosial, dan pendidikan yang diharapkan lebih baik sejatinya bukan cuma harapan dari pemilih pemula dan pemilih muda saja. Namun, hal itu mewakili keluhan dari kebanyakan masyarakat saat ini. Dan itu baru hanya sebagian saja. Karena jika kita cermati masih banyak lagi persoalan di negeri ini.
Diharapkan keseriusan itu tidak hanya keseriusan dalam meraih suara sebelum pilkada saja, tetapi siapapun calon yang terpilih, setelah menjabat nanti diharapkan lebih serius lagi dalam mengurus (meriayah) masyarakat. Apalagi suara pemilih pemula dan muda termasuk mahasiswa, sangat diperhitungkan pilkada saat ini. Jangan sampai suara banyak ini justru hanya diperhitungkan tatkala pemilihan saja. Namun, diabaikan setelah mendapatkan jabatan.
Apalagi mahasiswa selama ini selalu menjadi garda terdepan dalam menyuarakan aspirasi masyarakat. Dengan berbagai aksi-aksi penolakan, ketika ada kebijakan-kebijakan yang dirasa merugikan masyarakat. Ini menjadi PR untuk siapa saja yang akan terpilih nanti, agar tidak hanya memberikan janji-janji, tapi bukti yang nyata. Karena janji itu merupakan utang yang jarus ditunaikan.
Seperti firman Allah SWT: “Berpegang teguhlah dengan janji yang telah dilakukan, dan transaksi-transaksi yang telah ditetapkan, karena setiap janji itu adalah utang.”
Islam mengajarkan umatnya untuk selalu menjaga, memelihara, dan melaksanakan janji. Baik janji terhadap Allah SWT, janji terhadap sesama manusia, maupun janji terhadap diri sendiri.
Karena itu dalam Islam, pemimpin haruslah orang yang jujur, adil, dan amanah. Amanah kepemimpinan sejatinya merupakan sesuatu yang amat menakutkan. Pasalnya, selain harus bertanggung jawab kepada rakyat di dunia, seorang pemimpin juga harus mempertanggung jawabkan kepemimpinan nya kelak di akhirat di hadapan Allah SWT.
Dalam Islam, orang-orang yang diberi amanah dan tugas kepemimpinan haruslah mereka yang senantiasa menyadari akan beratnya pertanggung jawaban atas kepemumpinan mereka di akhirat kelak. Kesadaran ini menjadi sangat penting, sebabnya, jika mereka takut hanya kepada Allah SWT. Maka amanah kepemimpinan akan mereka jalankan dengan sebaik mungkin.
Dan banyaknya penyalahgunaan kekuasaan dan jabatan yang marak terjadi saat ini akibat dari para pemangkunya yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Padahal Rasulullah saw. telah menegaskan: “Sungguh kalian akan berambisi terhadap kekuasaan. Padahal kekuasaan itu bisa berubah menjadi penyesalan pada hari kiamat kelak.” (HR al-Bukhari)
Karena itulah, pada masa lalu sepanjang era ke-khilafahan Islam, tak sedikit yang enggan dipilih dan dibaiat menjadi khalifah. Jika pun pada akhirnya umat atau rakyat tetap memilih dan membaiat mereka sebagai khalifah, mereka amat terbebani dengan beratnya amanah yang mereka emban itu. Mereka amat khawatir dengan pertanggung jawaban kelak di akhirat atas kepemimpinannya. Padahal mereka adalah orang-orang salih, adil, dan amanah. Diantara mereka bahkan termasuk para sahabat Nabi saw. yang terbaik.
Selain itu, Islam juga menekankan pentingnya sistem yang baik untuk menjalankan kekuasaan. Sistem yang baik merujuk kepada sistem pemerintahan yang berlandaskan akidah dan syariat Islam. Bukan yang didasarkan pada akidah dan sistem sekuler.
Allah SWT menegaskan bahwa hanya sistem hukum-Nya yang baik yang wajib diambil dan diterapkan. Sebaliknya, sistem hukum jahiliyah wajib ditolak dan ditinggalkan. Allah SWT berfirman: “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi kaum yang yakin?” (QS.al-Maidah:50)
Wallahualam bissawab