Visus menghambur semesta sendu
Mendongak menatap nanar dunia
Sanubari sporadis bertalu
Di ufuk temaram tertikam
Rasa, rundung terhuyung bingung
Oh euforia, di manakah kenikmatan yang dijanjikan
Seruan kaffah jelas terarah
Pilonkah atau butuh suryakanta?
Ah, sudah jelas rasanya memang harus sadrah
Muak rasanya, insan ini terus berkilah
Gulita cakrawala dibuatnya
Hirap harapan pupus dengan euforia tak ada hidangan
Derai, jejal meraung di tanah manusia pilihan
Nabastala gulita, pekik parau bidadari jelita
Lebam hilanglah kirana perhiasannya
Duhai para bidadari surga maafkan matinya nuraga
Kebaikan hatimu, meremas hatinya, hingga luluh lantak
Karena euforia tak ada hidangan lezat merampasnya
Selaksa dosa terus menghiasi perut bumi
Rinai panjang tak kunjung hilang
Para pejuang dicaci maki dikatai anti
Bukan, bukan itu, bukan anti, tetapi pasti karena itu hanya ilusi
Tak gamangkah akan siksa yang dijanjikan?
Dengan gelar faasiquun, dzaalimuun, dan kaafiruun?
Rancaekek, 27 November 2024
By Ummu Aisyah