Oleh Pujiati
Aktivis Muslimah
Ribuan masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Barat menggelar aksi solidaritas bela Palestina, long march dari area masjid Pusdai menuju halaman depan Gedung Sate, Bandung pada hari Sabtu, 9 November 2024. Aksi ini diselenggarakan oleh Forum Ulama, Tokoh dan Advokat (FUTA) Jawa Barat dihadiri lebih dari 5000 peserta. Berbagai elemen masyarakat hadir dalam aksi ini mulai dari pelajar, pengacara, seniman, mahasiswa dan elemen masyarakat lainnya. Massa mendesak agar pemerintah segera mengirim tentara untuk membantu Palestina dari cengkaraman penjajah Zionis serta menyerukan seluruh negeri-negeri muslim untuk ikut membantu Palestina. Berita ini dilansir dari mediaindonesia.com.
Aksi-aksi yang sama sebelumnya juga menggema di berbagai daerah di seluruh tanah air Indonesia dilakukan secara berkesinambungan hingga sepanjang waktu invasi Zionis terhadap palestina berlangsung sampai saat ini. Karena berbagai dukungan yang sudah dilakukan baik materiil (seperti makanan, obat-obatan, medis, pengiriman relawan dll) maupun moril (seperti doa bersama dan bersuara di lembaga internasional, boikot prodak dll). Semuanya tidaklah cukup untuk menghentikan tindakan genosida Terbukti pada awal November 2024 agresi Zionis masih terus – menerus dilakukan. Selain menghancurkan fasum, juga menambah catatan jumlah korban warga sipil Palestina dalam setahun ini yaitu sekitar 45 ribu jiwa meninggal, 1.5 juta jiwa dalam pengungsian dan 100 ribu jiwa mengalami luka-luka dan. 79 % korbannya anak-anak dan perempuan. Dilansir dari Official inews. Ribuan Orang Ikuti Aksi Bela Palestina Di Gedung Sate, Bandung. iNews Pagi. 10/11. https://www.youtube.com/watch?v=FtROzndmsmg.
Poster-poster yang dibawah oleh massa aksi berisi seruan diantaranya; “Stop Genosida To Palestina”, “Muslim Armies, Where Are You? Gaza & Rafah Is Calling You”, “Mobilize Muslim Armies, Liberalite Palestine”, “Hukum Mati Netanyahu Dan Biden”, “Kirim Tentara Muslim Bebaskan Palestina”, “Diamnya Penguasa Muslim Adalah Pengkhianatan”, “Solusi Tuntas Masalah Palestina Adalah Jihad dan Khilafah”, Massa bergerak dengan rapi sambil mengibarkan panji Rasulullah, ar-rayah dan al-liwa. Dilansir dari Dakwah Priangan, Dari Priangan Timur Bersama Jawa Barat Ribuan Ikut Aksi Bela Palestina. Dakwah Priangan. 9 November 2024. https://www.youtube.com/watch?v=TXu8nHno3oU
Seruan-seruan tersebut tidak sekedar menuntut perdamaian dan penghentian genosida namun menyerukan solusi hakiki atas persoalan Palestina yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Aksi seruan ini bukan tanpa alasan. Mengingat sejarah setelah perang dunia kedua, AS menguasai Palestina pada tahun 1918 M diperparah lagi sejak runtuhnya daulah khilafah Ustmaniyah tahun 1924 M. Dan negeri-negeri dibawah naungan khilafah terpecah belah menjadi bangsa-bangsa kecil (national state) termasuk Palestina. AS menggantikan posisi Inggris sebagai pendukung entitas Yahudi untuk mendirikan negara diatas negara Palistina. Sekitar 100 tahun lebih Palestina dan negeri–negeri muslim dibawah cengkraman negara super power (AS) yaitu sebuah negara yang mengemban sistem demokrasi kapitalis. Sehingga seluruh sistem peraturan di seluruh dunia ini dibawah kendali sistem kapitalisme yang dipelopori oleh AS.
Oleh karena itu mustahil kaum muslimin berharap pada dunia internasional dan PBB atas solusi persoalan Palestina. Sebab realitanya lembaga internasional semuanya impotent, sudah lebih dari 30 resolusi Dewan Keamanan PBB dikeluarkan tidak pernah kuat untuk mencegah entitas Yahudi. Meskipun secara diplomasi 143 negara anggota PBB pro terhadap Palestina. Dan melalui ICG Afrika Selatan, mahkamah pidana internasional akan mengeluarkan surat penangkapan perdana menteri Binyamin Netanyahu dan pemimpin Hamas Yahya Sinwar. Lagi-lagi AS melakukan standar ganda, melindungi Israel sebagai anak emasnya. Zionis Israel tetap melakukan agresinya ke Palestina bahkan menyebarkan fitnah (hoax) pada pejuang – pejuang Hamas di Palestina serta membunuh pimpinan Hamas.
Demikian pula OKI yang beraggotakan negara-negara muslim, hanya melakukan kecaman/ gertakan-gertakan saja. Karena beberapa pemimpin negeri muslim telah menggandeng tangan Israel untuk kepentingan kekuasaan semata. inilah bentuk sikap pengkhianatan para pemimpin negeri muslim yang menyebabkan kaum muslimin tidak memiliki power, kekuasaan maupun kedaulatan terhadap negerinya sendiri. Perlu kita cermati bagaimana sigapnya pemimpin baru Indonesia diawal kepemimpinannya mampu menangkap 28 pelaku dan 3 pejabat koruptor sebagai pengalihan iseu terhadap layatan deplomasinya pada tanggal 12 November 2024, setelah ke Tiongkok menuju ke AS. Persoalan Palestina menjadi wacana utama antara kedua negara / Indonesia dan AS (Joe Biden).
Tampak jelas, di atas siapa yang mengendalikan dan siapa yang dikendalikan oleh sistem aturan demokrasi kapitalis. Sungguh luar biasa pengaruh sistem kapitalis ini terhadap kondisi kaum muslimin. Meskipun gelombang besar masyarakat dunia bersyahadat memeluk islam akhibat kekuatan media yang menunjukkan representasi kaum muslimin di Palestina. Namun sayang, sistem demokrasi kapitalis meluncurkan propaganda melalui moderasi beragama yang digaungkan di negeri-negeri muslim untuk mengikis aqidah umat islam.
Tak heran jika sistem kapitalis ini mematikan makna persaudaraan iman dan Islam baik pada individu umat, masyarakat muslim, serta pada jiwa-jiwa para pemimpin negeri muslim. Contoh nyata kaum muslimin saat ini tak mampu berbuat apa-apa, masyarakat menilai itu bukan urusan mereka, dan para pemimpin negeri muslim sibuk mengurus kekuasaannya masing-masing. Sedangkan Rasulullah saw. bersabda dalam hadisnya, “Orang–orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi dan mengasihi bagaikan satu tubuh, apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Muslim 4685).
Akibatnya tidak ada satu pun pemimpin negeri muslim yang nyata-nyata mengirimkan tentara untuk membebaskan Palestina. Padahal seorang imam/pemimpin seharusnya seperti yang dijelaskan oleh Al Imam An Nawai dalam Syarh Shahih Muslim, “Imam itu perisai yakni as sitr (pelindung) karena Imam (Khalifah) menghalangi / mencegah musuh dari mencelakai kaum muslimin dan mencegah antar manusia satu dengan yang lain untuk saling mencelakai, memelihara kemurnian ajaran islam dan manusia berlindung di belakangnya dan mereka tunduk di bawah kekuasaannya.”
Allah SWT di dalam firman-Nya Q.S Al Baqarah ayat 191 yang artinya; “Bunuhlah mereka (yang memerangi mu) dimanapun kamu jumpai dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu. Padahal fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Lalu janganlah kamu perangi mereka di Masjidil haram, kecuali jika mereka memerangimu di tempat itu. Jika mereka memerangimu makan perngilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang –orang kafir.”
Dalil tersebut menguatkan bahwa solusi tuntas atas persoalan Palestina adalah jihad dan khilafah. Kehadiran khilafah sangat dibutuhkan saat ini, khalifah akan memobilize para militernya untuk berjihad membebaskan Palestina. Sebagaimana Palestina sebelumnya dijaga sepenuh hati dan ditebus dengan darah para syuhada. Pembelaan ini merupakan syariat Islam, sebab tanah Palestina adalah tanah kharajiyah yang dibebaskan oleh para mujahid pada masa Khalifah Umar Bin Khatab.
Adapun upaya yang bisa dilakukan oleh kaum muslimin diantaranya: pertama, menyeru kepada pemimpin negeri-negeri muslim agar memiliki keberanian mengirim tentara muslimnya untuk membantu Palestina. Kedua, menyeru kepada pemimpin negeri-negeri muslim untuk bersatu dalam satu naungan institusi yaitu daulah khilafah. Karena daulah khilafah dapat memobilisasi pasukan militer dari negeri-negeri muslim untuk berjihad membebaskan Palestina. Jika tidak ada khilafah kaum muslimin terpecah belah seperti saat ini nasional state. Setiap orang hanya sibuk memikirkan masalah pribadi/bangsanya masing-masing. Sedangkan dalam Islam selama berakidah Islam, maka mereka bersaudara tidak tersekat-sekat. Oleh karena itu perlunya bersatu untuk mengusir penjajah. Ketiga, mengirim dan menangkapi pejabat-pejabat Israel dan entitas Israel harus di hapus dari peta dunia dan secara hukum internasional tidak layak menjadi negara karena telah merebut serta menguasai wilayah negara lain. Keempat, mengedukasi masyarakat serta mengecam Israel. Diplomasi kaum muslimin agar kaum muslimin juga mendiplomasikan kepada para pemimpin negara muslim agar mengirimi militernya membebaskan palestina.
Dalam memperjuangkan tegaknya kembali daulah Khilafah Islamiyah tentunya bergabung dengan kelompok dakwah yang ideologis pula.
Wallahualam bissawab