Berharap Kolam Retensi, Tiga Periode Bupati Tak Ada Atensi

Oleh : Rengganis Santika, STP

Setiap memasuki musim penghujan, banjir nampaknya sudah akrab dengan warga Komplek Cingcin Permata Indah (CPI) di Desa Gandasari, Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung. Padahal bulan November wilayah JaBar khususnya di Kabupaten Bandung baru saja memasuki musim penghujan. Namun banjir sudah menemani hari-hari warga disana. Kata bosan sudah tidak lagi cukup mewakili perasaan warga Kompleks CPI. Warga selama ini tidak tinggal diam, sejak masa jabatan bupati Obar Subarna selama dua periode dilanjutkan menantunya, bupati Dadang Naser yang juga dua periode hingga bupati saat ini bapak Dadang Supriatna. Keadaan tidak berubah salah satu yang menjadi tuntutan warga adalah membangun kolam retensi, guna menampung air yang melimpah dari sungai Cikambuy dan sungai Cipananggulan saat hujan. sayangnya keinginan warga belum jua mendapat atensi. Akan tuntaskah masalah banjir disana? (Selasa, 12-11-2024, TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG )
Mendudukkan Masalah Banjir Di Kabupaten Bandung
Problem banjir di kabupaten Bandung, sudah menjadi semacam penyakit kronis. Terus menerus menyerang disetiap musim hujan. “Proyek Citarum Harum” yang menyedot anggaran tak sedikit nampaknya belum membuahkan hasil secara signifikan. Danau retensi yang dibangun di beberapa titik langganan banjir serta “Rumah pompa” di kecamatan Baleendah, rupanya hanya menjadi solusi parsial dalam lingkup wilayah yang terbatas. Realitanya problem banjir di Baleendah memang teratasi di satu dua titik, namun ternyata banjir berpindah ke daerah lain. Teratasi di satu titik namun muncul titik-titik banjir baru di daerah lain. Seperti banjir di kecamatan Banjaran dengan ketinggian air yang mencapai tiga meter. Termasuk di wilayah lain di kecamatan Katapang dan Soreang.
Ketika banjir diselesaikan secara parsial, maka tidak akan menyentuh akar masalah sesungguhnya. Tidak tuntas dan terus menjadi penyakit kronis. Bahkan memunculkan masalah lain. Lantas apa akar masalah banjir ini? Penting untuk mendudukkan masalah terlebih dahulu, apakah banjir sekedar masalah teknis ataukah merupakan masalah filosofis atau bahkan ideologis? Tentu persoalan banjir bukan hanya terjadi di CPI saja atau di kabupaten Bandung saja, namun banjir sudah menjadi problem regional di Jawa Barat bahkan nasional. Banjir bukan sekedar karena tingginya curah hujan, kemudian solusinya membangun danau retensi, atau menormalisasi sungai Citarum, memperbaiki drainase dll. Alih-alih menyolusi di satu titik tapi malah menimbulkan masalah baru dititik lain. Solusi harus terintegrasi dan komprehensif.
Bukan pula sekedar persoalan filosofis seperti kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Sosialisasi memahamkan masyarakat akan rusaknya alam, dengan menjaga daerah hulu, peduli wilayah resapan air. Membuang sampah pada tempatnya, atau menciptakan konsep sekolah adiwiyata, semua ini telah dilakukan. Namun apabila kita kaitkan fakta dan Analisa, ternyata kontribusi terbesar penyebab banjir adalah rusaknya daya dukung lingkungan. Telah terjadi kerusakan alam secara masif. Sawah, kebun lahan hijau untuk daerah resapan air, beralih fungsi menjadi pabrik, industri, pariwisata dan perumahan. Alih fungsi lahan secara ugal-ugalan ini pelakunya tiada lain adalah pengusaha (korporasi, olighart) yang mendapat izin dari penguasa, para pemangku kebijakan. Para pengusaha hanya berpikir pragmatis yang penting untung mendapat lahan strategis tak peduli dampak lingkungan. Disisi lain petani terbelit kondisi, biaya bertani mahal, pupuk mahal, tapi harga hasil panen jatuh. Tekanan hidup berat akhirnya lahan dijual dengan terpaksa atau dipaksa. Semua ini adalah problem sistemik. Semua ini akibat penerapan ideologi kapitalisme sekuler. Dalam sistem kapitalisme pembangunan berpihak pada pengusaha, kapitalis berduit. Rakyat sering jadi korban. Komitmen penguasa termasuk bupati selalu terjebak alas an klasik, yaitu terbatas anggaran. Disisi lain alokasi anggaran tak sedikit untuk proyek-proyek pencitraan dan “mercusuar” belum lagi korupsi. Inilah watak ideologi kapitalisme sekuler.
Islam Menyelesaikan Banjir secara sistemis Dan Ideologis
Islam bukan sekedar agama ritual yang hanya sekedar mengurusi persoalan ibadah dan akhlak. Tapi sebuah ideologi sebuah system hukum yang lengkap. Islam mengatur masalah lingkungan yang terintegrasi dengan aspek lain seperti ekonomi, social dan politik. Islam memandang hujan adalah rahmat berkah dan rezeki namun Ketika ada salam Kelola yang menyalahi syariat islam maka berubah menjadi berubah menjadi bencana. Syariat islam mengatur bahwa hutan, Sungai adalah kepemilikan umum milik rakyat semuanya sesuai hadist Rasulullah saw “kaum muslimin (manusia) berserikat dalam tiga hal yaitu padang rumput, air dan api” ( HR Ibnu Majah). Artinya tiga hal tersebut yang mewakili semua asset alam yang merupakan hajat hidup kolektif manusia haram hukumnya dimiliki, dibeli, diberikan oleh individu, swasta apalagi asing. Haram membuang sampai di Sungai dijalan dan area milik umum lainnya karena itu adalah asset Bersama yang harus dijaga Bersama. “Tidak boleh berlaku dharar atau merusak mencelakai orang lain dan diri sendiri.
Semua aturan syariat ini tentu harus diikat dengan keimanan ketaatan pada Allah swt. Berbeda jauh dengan landasan sekuler sebagai azasnya kapitalisme, Dimana agama terpisah dengan kehidupan. Selain itu syariat islam memastikan seorang pemimpin termasuk bupati sampai kepala desa adalah sebagai ra’in (pengurus) dan junnah (pelindung) bukan malah dikorupsi apalagi diabaikaikan selama 27 tahun!! (Kompas jabar, 12-11-2024) . Jangankan menunggu tiga periode, Ketika saat itu saja seorang pemimpin melihat rakyatnya kesulitan, terkena bencana maka pada saat itu juga harus diselesaikan semua didukung anggaran Baitul maal yang maksimal. Apakah kondisi ini bisa terwujud? Sangat bisa apabila kita Kembali pada aturan Allah, syariat Allah yang menyeluruh (kaffah). Ketika ada kerusakan dan manusia tertimpa akibat ulahnya sendiri maka kembalilah pada syariatNya (QS Ar Ruum 41) wallahu’alam

Nama

#Berita,4,#Cerpen,2,#hut,2,#Internasional,1,#Kesehatan,1,#Menhan,1,#Olahraga,1,#Opini,148,#Otomotif,1,#Padang,3,#Polri,4,#Teknologi,2,#TNI,7,Anti Korupsi,1,Bank Nagari,2,Batu Sangkar,1,Bela Negara,2,Bencana,1,Bencana alam,1,Berita,170,BNI,1,BNPB,1,BPBD Agam,1,BPBD Sumbar,1,BPJN,1,BRI,5,Cerpen,2,Diktisaintek,1,Diplomasi,1,DPRD Kota Payakumbuh,3,Filupina,1,FKAN Pauh IX,2,Fogging,1,GKMI,1,Go green,1,Grasstrack,1,Hari Armada,1,imporsusu,1,Intan Jaya,1,Internasional,3,Islam,1,Iven Wisata,1,Jabatan,1,Jakarta,11,Jateng,8,Jatim,4,Jawa Tengah,1,JNE,1,Judi Online,1,Kabupaten Limapuluh Kota,11,Kalimantan,3,Kampus,3,kapitalisme,1,Kasad,2,Keagamaan,2,Kementerian Komdigi,1,kepemimpinanIslam,1,Kesehatan DBD,1,Keselamatan,1,Ketahanan pangan,1,khilafah,1,Koarmada,9,Kompetisi,1,Kostrad,2,Kota Payakumbuh,42,Kunjungan,1,Kupang,2,Lanud,1,Lanud Adi Sumarmo,2,Lapas Suliki,1,Lewotobi,1,mahasiswa,3,malang,2,Menembak,2,Menkomdigi,1,Mentan,1,Mentawai,1,Milad,1,MIPI,1,Misi,1,Monas Menjadi Saksi Napak Tilas 1 Dekade Hafizh On The Street,1,Muhammadiyah,1,MUI,1,Mutasi,1,Nagari Simalanggang Raih Peringkat Kedua Nasional dalam Apresiasi Keterbukaan Informasi Publik Desa 2024,1,Nasional,13,Natal,1,NTT,2,Olah raga,3,Opini,408,Opini nusantaranews.net,29,Opino,1,Otomotif,1,Pagaruyung,1,Panglima TNI,3,Papua,14,Pati,5,Patroli,1,Pelayaran,2,pembangunan,1,Pemkab Mentawai,1,Pendidikan,2,Penyelundupan,1,Perbatasan,2,Perguruan Tinggi,1,Pertanian,1,Pessel,1,peternaksusu,1,Pilkada,7,POTRET BURAM PENDIDIKAN SISTEM KAPITALIS SEKULER,1,PPATK,1,presiden,1,Presiden Prabowo,1,Puisi,2,Puisi Nusantaranews,1,Puting beliung,1,PWI,4,Rajab,1,Rektor,1,RS Mitra Bangsa,1,SALATIGA,1,satgas,3,Satgas TNI,6,Sejarah,6,seminar,1,sinergi,1,Solok,35,sorong,1,surabaya,2,Surakarta,2,Sweeping,1,Tanah Datar,4,Teknologi,2,TMP,1,TNI,12,TNI AD,4,TNI AL,4,TNI AU,2,Toleransi,2,UKSW,2,Veteran,1,Wakasad,2,wartawan,1,ziarah,1,
ltr
item
contoh nusantara: Berharap Kolam Retensi, Tiga Periode Bupati Tak Ada Atensi
Berharap Kolam Retensi, Tiga Periode Bupati Tak Ada Atensi
contoh nusantara
https://seobost24.blogspot.com/2024/11/berharap-kolam-retensi-tiga-periode.html
https://seobost24.blogspot.com/
https://seobost24.blogspot.com/
https://seobost24.blogspot.com/2024/11/berharap-kolam-retensi-tiga-periode.html
true
6213777001862568329
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content