Oleh: Lilik Solekah, SHI.
(Ibu Peduli Generasi)
Sebenarnya ada kaitannya dengan tulisan opini yang pernah penulis kupas pada pekan lalu tentang Proyek Makan Bergizi Gratis, siapa yang diuntungkan?. Belum lama tulisan itu tayang di nusantaranews sudah muncul berita baru bahwa peternak sapi di negeri ini menangis menjerit terpaksa membuang puluhan ribu liter susu segar, seperti halnya yang terjadi di Boyolali juga di Pasuruan.
Sedih, para peternak sapi di Boyolali protes atas pembatasan susu hingga mandi susu di jalanan, juga beredar video peternak susu di Pasuruan membuang susunya di sungai hingga terlihat sungai susu yang mengalir deras. Mereka sudah membagi-bagikan susu gratis di jalanan dengan jumlah yang tidak sedikit namun lagi – lagi pasokan susu itu berlebih sedang pabrik yang biasanya menerima pasokan pusat mengurangi pasokan hingga 75%. Pembatasan pasokan dari pabrik atau IPS (Industri Pengolahan Susu sapi) di Jakarta itu diduga lantaran ada kebijakan impor susu yang diambil oleh pemerintah dalam hal ini dilakukan oleh Kementerian Perdagangan. Kondisi ini jelas merugikan para peternak sapi, bahkan juga para pengepulnya.
Negara seharusnya melindungi nasib peternak melalui kebijakan yang berpihak pada peternak. Baik dalam hal menjaga mutu maupun dalam menampung hasil susu dan lainnya. Namun tidak mengherankan jika hal ini terjadi pada negara yang menganut sistem kapitalisme sekuler, yang abai terhadap kesejahteraan rakyatnya karena memang sejatinya dalam sistem kapitalisme sekuler ini jika bisa memelihara kebodohan juga memelihara kemiskinan sehingga mudah untuk ditipu dan ditindas. Semakin bodoh dan miskin rakyatnya maka semakin mudah dikendalikan dan semakin menurut.
Selain itu, kebijakan impor diduga ada keterlibatan para pemburu rente untuk mendapatkan keuntungan dari impor susu. Inilah salah satu kebijakan buruk dalam sistem ekonomi kapitalisme, karena berpihak pada para pengusaha. Semakin bisa memegang para pengusaha semakin bisa memegang kekuasaan. Begitu juga saling menguntungkan itulah tabiat dalam sistem kapitalisme. Sebab Kebahagiaan tertinggi dalam sistem ini mendapatkan keuntungan yang sebesar – besarnya, tanpa peduli halal haramnya. Bahkan harus menutup mata untuk melihat rakyat yang menderita. “Yang penting untung”.
Berbeda jauh dengan sistem islam yang mengutamakan kesejahteraan rakyat. Karena memahami bahwa kekuasaan nantinya dimintai pertanggungjawaban dan pemimpin yang bertakwa tidak akan pernah mengabaikan kewajibannya sebagai roin dan junnah bagi rakyatnya pemelihara dan pelindung umat itu sudah menancap dalam diri pemimpin yang memahami Islam sebagai agamanya.
Sistem ini hanya bisa diemban oleh negara khilafah yang akan berdiri di tengah umat, yang pasti mensolusi dengan syariat islam demi mewujudkan kemaslahatan umat.
Negara juga secara mandiri akan memenuhi kebutuhan rakyat dengan mengoptimalkan seluruh potensi yang ada. Sehingga hal ini bisa mencegah merebaknya orang-orang yang mencari untung di tengah penderitaan rakyat.
Maka tunggu apa lagi, segeralah untuk menghempaskan sistem yang terbukti menyengsarakan rakyat di segala lini dan menggantinya dengan sistem yang telah diridhoi ilahi Robbi yaitu sistem Islam yang terbukti mensejahterakan rakyat hingga pelosok baik muslim maupun non muslim. [ wallahu a’lam bishawab]